SAMARINDA — Kalimantan Timur (Kaltim) tengah berada di pusat perubahan besar seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Masuknya investasi, pertumbuhan penduduk, dan meningkatnya aktivitas ekonomi diperkirakan akan mendorong kebutuhan pangan dalam jumlah semakin besar.
Di tengah peluang tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah Kaltim mampu memenuhi kebutuhan pangan ibu kota baru yang berada di wilayahnya sendiri, atau justru hanya menjadi pasar bagi komoditas yang dipasok dari daerah lain?
Persoalan itu menjadi perhatian dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (UNMUL) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara di Ruang Teater Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., Samarinda, Jumat (21/8/2026).
Produksi Jagung Melonjak, Peluang Pasar Terbuka
Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya, memaparkan perkembangan produksi jagung yang dinilai menunjukkan potensi besar sektor pertanian daerah.
Berdasarkan data yang disampaikannya, produksi jagung Kaltim meningkat dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025. Dengan angka tersebut, kenaikannya mencapai lebih dari 160 persen dalam kurun satu tahun.
Peluang pasar juga disebut semakin terbuka. Salah satu pabrik pengolahan di Samboja, menurut Lani, membutuhkan pasokan jagung sekitar 40 hingga 50 ton per hari, setara dengan hasil panen kurang lebih 300 hektare lahan setiap bulan.
“Prinsipnya sederhana: petani menanam, industri menyerap,” ujar Lani dalam keterangannya kepada media di Samarinda, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, adanya kepastian pasar dapat membuat usaha tani jagung semakin menarik secara ekonomi. Simulasi usaha tani satu hektare disebut berpotensi menghasilkan laba bersih sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per musim tanam, sementara lahan dua hektare dapat menghasilkan sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per musim.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mengubah persepsi generasi muda terhadap sektor pertanian. Pertanian tidak lagi semata-mata dipandang sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai sektor usaha dengan peluang ekonomi dan pasar yang nyata.
Beras Masih Menjadi Tantangan
Meski produksi jagung menunjukkan perkembangan positif, ketahanan pangan Kaltim masih menghadapi tantangan pada komoditas beras.
Lani menyebut Kaltim masih mengalami defisit sekitar 170.000 ton beras per tahun dan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Tekanan terhadap sektor produksi juga datang dari berkurangnya lahan pertanian akibat perubahan fungsi lahan untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Ketergantungan pasokan dari luar daerah juga disebut masih terjadi pada sektor peternakan.
“Pertanyaannya, apakah Kaltim hanya akan menjadi penonton, atau mampu menjadi pemasok utama kebutuhan pangan IKN?” kata Lani.
Menurutnya, kehadiran IKN seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas produksi pangan Kaltim, bukan hanya memperbesar pasar konsumsi bagi produk yang berasal dari luar daerah.
Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Stok
Guru Besar Fakultas Pertanian UNMUL, Prof. Dr. Bernatal Saragih, S.P., M.Si., menekankan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dilihat hanya dari ketersediaan komoditas.
Ketahanan pangan juga mencakup akses masyarakat terhadap pangan, pemanfaatan, serta stabilitas pasokan dalam jangka panjang.
Menurut Prof. Bernatal, Indeks Ketahanan Pangan Kaltim memang tergolong tinggi. Namun, masih terdapat disparitas antarwilayah akibat mahalnya biaya logistik dan tantangan geografis daerah pedalaman.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengusulkan pembangunan lima hub logistik regional yang mampu mengintegrasikan jalur sungai, jalan nasional, pelabuhan, dan bandara.
“IKN bisa menjadi katalisator, tetapi juga bisa menjadi beban tambahan, tergantung apakah produksi dan distribusi lokal kita diperkuat atau tidak,” ujar Prof. Bernatal.
Penguatan konektivitas dinilai penting agar pasar pangan Kaltim yang selama ini terfragmentasi dapat terhubung secara lebih efisien dan biaya distribusi dapat ditekan.

Kearifan Lokal dan Lumbung Pangan yang Mulai Tergerus
Tokoh adat Kaltim, Hendrik Tandoh, membawa perspektif berbeda dengan mengingatkan kembali pola ketahanan pangan masyarakat adat di pedalaman.
Ia mengatakan masyarakat pada masa lalu memiliki sistem pangan yang relatif kuat melalui pola berladang, pemanfaatan tanaman lokal, rempah-rempah, tanaman obat, dan keberadaan lumbung pangan di rumah panjang.
“Semakin sering berpindah, semakin kuat pula ketahanan pangan mereka,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut menurut Hendrik mulai berubah seiring menyusutnya ruang pertanian akibat ekspansi pertambangan dan perkebunan.
Ia juga melihat kecenderungan generasi muda lebih memilih bekerja di perusahaan atau menjadi aparatur sipil negara dibandingkan masuk ke sektor pertanian.
“Kita dimanjakan oleh investasi yang ada,” katanya.
Hendrik mengajak masyarakat memulai dari langkah sederhana, seperti memanfaatkan halaman rumah untuk menanam cabai, serai, dan kebutuhan pangan lainnya.
Ia juga mengingatkan potensi musim kemarau panjang dan kebakaran lahan yang dapat mengganggu masa tanam, khususnya di wilayah hulu. Karena itu, perlindungan lingkungan dinilai tidak dapat dipisahkan dari agenda ketahanan pangan.
Pupuk Kaltim Menjadi Modal Strategis
Perwakilan Pemuda Kaltim, Alfonsius Limba, mengatakan Kaltim memiliki salah satu modal strategis untuk memperkuat sektor pertanian, yakni keberadaan industri pupuk di daerah.
“Kaltim sebenarnya punya industri pupuk yang beroperasi hingga saat ini, yaitu Pupuk Kaltim, bagian dari ekosistem Pupuk Indonesia. Ini modal besar yang perlu terus kita optimalkan bersama,” ujarnya.
Ia mendorong mahasiswa Fakultas Pertanian ikut mendampingi petani dalam mengakses pupuk bersubsidi, termasuk membantu proses administrasi e-RDKK hingga mekanisme penebusan melalui aplikasi i-Pubers dan kanal resmi distribusi.
Alfonsius juga menyinggung ancaman El Nino dan persoalan ketersediaan air sebagai tantangan yang perlu diantisipasi melalui penguatan infrastruktur dan program penyediaan air hingga tingkat desa.
Dalam paparannya, ia menyebut kapasitas produksi pupuk nasional berada di kisaran 14 juta ton per tahun, sementara kebutuhan subsidi tahunan sekitar 9,8 juta ton. Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi disebut telah mencapai sekitar 6 juta ton.
Untuk Samarinda, stok pupuk bersubsidi yang tersedia disebut mencapai sekitar 1.900 ton, dibandingkan alokasi tahunan sekitar 1.700 ton. Berdasarkan kondisi tersebut, kebutuhan pupuk petani hingga musim tanam September dinilai relatif aman.
Namun, Alfonsius menegaskan persoalan pangan tidak dapat diselesaikan hanya melalui ketersediaan pupuk.
“Diperlukan gerakan kolaboratif antara kampus, mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan petani untuk menjawab berbagai persoalan di lapangan,” katanya.
Generasi Muda Diminta Turun ke Pertanian
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UNMUL, Ir. Suhardi, S.Pt., M.P., Ph.D., menegaskan bahwa ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.
Menurutnya, sumber daya alam, teknologi dan modal tidak akan cukup apabila tidak disertai regenerasi pelaku sektor pertanian.
“Peran strategis pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Pemuda harus menjadi pemain utama,” ujarnya.
Pesan serupa muncul dari berbagai narasumber seminar. Lani Tanujaya menekankan perlunya sinergi berbagai unsur dengan Kadin sebagai fasilitator dan mahasiswa sebagai penggerak inovasi.
Prof. Bernatal mengangkat pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat dan media. Sementara Alfonsius mendorong kolaborasi kampus, mahasiswa, pemuda, pemerintah dan petani.
Meski menggunakan istilah berbeda, pesan yang muncul sama: ketahanan pangan Kaltim tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri.
IKN Jangan Hanya Menjadi Pasar
Kehadiran IKN dinilai memberikan peluang strategis untuk mengubah struktur ekonomi pangan Kalimantan Timur.
Jika kebutuhan pangan IKN mampu dipenuhi sebagian besar oleh petani, peternak, nelayan dan pelaku usaha lokal, pertumbuhan ibu kota baru dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat daerah.
Sebaliknya, apabila kebutuhan tersebut sebagian besar dipenuhi dari luar Kaltim, daerah berisiko hanya menjadi pasar di tengah meningkatnya permintaan.
Karena itu, penguatan produksi, logistik, ketersediaan lahan, regenerasi petani, akses pupuk, penggunaan teknologi, hingga kepastian pasar perlu dilakukan secara terintegrasi.
Prof. Bernatal juga mengajak generasi muda tidak berhenti menjadi konsumen pangan. Mereka perlu didorong menjadi produsen, pencipta teknologi, pengusaha pertanian, serta pencipta nilai tambah.
Seminar Ketahanan Pangan tersebut akhirnya merangkum satu pesan besar mengenai posisi strategis Kalimantan Timur di tengah pembangunan IKN.
“Membangun Kalimantan, Menghidupi Nusantara.”
Pesan itu menegaskan bahwa pembangunan IKN diharapkan tidak hanya membawa pertumbuhan fisik dan investasi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kedaulatan pangan, ekonomi lokal, serta masa depan generasi muda Kalimantan Timur.
(Red)



















