Nabire — Merah Putih berkibar dari perairan habitat hiu paus di Kampung Sowa, kawasan Teluk Cenderawasih, Papua Tengah. Bukan sekadar menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, momentum tersebut membawa pesan lebih besar: membangun Papua melalui pariwisata yang berpihak kepada masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian alam.
Pengibaran Sang Saka Merah Putih di kawasan wisata hiu paus Kampung Sowa dilakukan Yayasan Somatua dan PT Adventure Cartensz bersama komunitas penyelam Papua Tengah serta masyarakat setempat dalam rangka menyambut 17 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan Polda Papua Tengah. Bendera Merah Putih dikibarkan di tengah perairan yang dikenal sebagai salah satu habitat hiu paus sekaligus destinasi wisata bahari unggulan di Kabupaten Nabire.
Pimpinan Yayasan Somatua, Maximus Tipagau, melihat momentum kemerdekaan sebagai kesempatan memperkenalkan wajah lain Papua: kekayaan alam yang apabila dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
“HUT Kemerdekaan ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan ekonomi dan pendidikan masyarakat melalui pariwisata,” ujar Maximus Tipagau.
Bagi Maximus, pembangunan Papua tidak cukup hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam. Pariwisata dapat menjadi alternatif ekonomi berkelanjutan yang memberikan ruang lebih besar kepada masyarakat adat dan generasi muda untuk menjadi pelaku utama di daerahnya sendiri.
Ia berharap kawasan hiu paus Teluk Cenderawasih dapat semakin dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Papua Tengah, bukan hanya bagi wisatawan domestik tetapi juga wisatawan mancanegara.
Kawasan Teluk Cenderawasih dikenal memiliki peluang perjumpaan dengan hiu paus di habitat alaminya. Kekayaan tersebut menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik kuat bagi wisata snorkeling dan diving serta wisata bahari berbasis konservasi.
“Kami berharap anak-anak muda bisa belajar diving, bahasa Inggris dan keterampilan lainnya sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dan mendapatkan manfaat dari pariwisata,” kata Maximus.
Semangat tersebut menjadi bagian dari misi Yayasan Somatua dalam mendorong pemberdayaan masyarakat Papua melalui pendidikan, peningkatan keterampilan, aktivitas sosial, dan pengembangan ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal.
Dari Hiu Paus Menuju Ekonomi Masyarakat
Kampung Sowa memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Daya tarik utamanya adalah kekayaan bahari Teluk Cenderawasih, termasuk keberadaan hiu paus yang menjadi magnet bagi wisatawan.
Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi rangkaian ekonomi baru bagi warga, mulai dari jasa pemandu wisata, penyewaan perahu, transportasi lokal, homestay, kuliner, produk UMKM, hingga berbagai jasa pendukung wisata lainnya.
Mayoritas masyarakat di kawasan pesisir menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut dan kegiatan tradisional. Pertumbuhan sektor pariwisata diharapkan dapat menghadirkan sumber penghasilan tambahan tanpa meninggalkan identitas serta kearifan lokal masyarakat.
Wisata budaya juga menjadi bagian penting dari daya tarik kawasan. Kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan kuat dengan laut, tradisi lokal, kuliner berbahan hasil laut dan sagu, hingga tarian penyambutan dapat dikembangkan sebagai pengalaman wisata yang memiliki karakter khas Papua.
Maximus menilai masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai subjek, bukan hanya sebagai penonton ketika wisatawan dan investasi masuk ke daerah mereka.
“Harapannya hiu paus ini terus menggema, menjadi salah satu tujuan wisata dan mampu membuka lapangan kerja bagi anak-anak Papua,” tuturnya.
Pariwisata Harus Berjalan Bersama Konservasi
Pengembangan wisata hiu paus juga membawa tanggung jawab besar terhadap kelestarian lingkungan. Hiu paus tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas pariwisata, tetapi merupakan bagian penting dari ekosistem laut yang harus dilindungi.
Karena itu, peningkatan kunjungan wisata perlu diikuti aturan interaksi yang ketat, edukasi kepada wisatawan, peningkatan kompetensi pemandu lokal, serta koordinasi dengan pengelola kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.
Model wisata yang dibangun harus memastikan aktivitas manusia tidak mengganggu perilaku alami hiu paus maupun kondisi ekosistem perairan.
Menurut Maximus, pengembangan destinasi tidak dapat dilakukan satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi masyarakat, pemuda, komunitas penyelam, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pengelola kawasan konservasi, aparat keamanan, serta pelaku usaha pariwisata.
“Pengembangan pariwisata ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak,” tegasnya.
17 Agustus dari Ujung Timur Indonesia
Semarak kemerdekaan di Kampung Sowa juga direncanakan berlanjut pada 17 Agustus 2026 dengan keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok dan wilayah sekitar.
Perayaan tersebut diharapkan menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus memperkenalkan Kampung Sowa sebagai destinasi yang memadukan nasionalisme, kekayaan budaya, kehidupan masyarakat pesisir, dan konservasi laut.
Bagi masyarakat di ujung timur Indonesia, peringatan kemerdekaan mempunyai makna tersendiri. Merah Putih yang dikibarkan di tengah laut menjadi simbol bahwa pembangunan dan semangat kebangsaan harus hadir hingga wilayah pesisir dan kampung-kampung Papua.
Momentum tersebut sekaligus menjadi cara untuk menunjukkan kepada Indonesia bahwa Papua memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui pendekatan berbeda: bukan hanya mengambil kekayaan alam, tetapi mengelolanya agar tetap lestari dan memberi kesejahteraan kepada masyarakat pemilik wilayah.
Adventure Carstensz Dorong Wisata Papua
Selain melalui Yayasan Somatua, Maximus Tipagau juga mendorong pengembangan sektor pariwisata melalui PT Adventure Carstensz yang mempromosikan berbagai perjalanan dan pengalaman wisata Papua, termasuk kawasan Nabire dan wisata bahari.
Pengembangan paket wisata dinilai dapat membantu membawa wisatawan langsung ke destinasi sekaligus membentuk rantai ekonomi yang melibatkan masyarakat lokal.
Namun, menurut Maximus, pertumbuhan kunjungan wisata harus diiringi penguatan kapasitas masyarakat. Pemuda Papua perlu dibekali kemampuan sebagai pemandu wisata, penyelam, pelaku UMKM, pengelola akomodasi, hingga kemampuan bahasa asing agar dapat mengambil posisi penting dalam industri tersebut.
Dengan demikian, peningkatan wisatawan tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi operator perjalanan, tetapi menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di kampung.
Misi Membangun Papua Lewat Wisata
Maximus Tipagau melihat pariwisata sebagai salah satu jalan untuk mengatasi persoalan ekonomi sekaligus membuka cakrawala baru bagi generasi muda Papua.
Papua memiliki kekayaan alam yang sulit ditandingi, mulai dari pegunungan, hutan tropis, kebudayaan masyarakat adat hingga kawasan laut dengan biodiversitas tinggi. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai budaya dan kelestarian lingkungan.
Dalam pandangannya, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan. Indikator yang jauh lebih penting adalah berapa banyak warga lokal yang mendapatkan pekerjaan, berapa banyak anak Papua yang memperoleh keterampilan, berapa UMKM yang berkembang, serta seberapa baik alam tetap terlindungi.
Pengibaran Merah Putih di habitat hiu paus akhirnya membawa pesan yang melampaui perayaan kemerdekaan.
Dari Kampung Sowa, Maximus Tipagau ingin memperlihatkan sebuah visi bahwa konservasi, pariwisata, pendidikan dan ekonomi masyarakat dapat berjalan dalam satu arah.
“Pariwisata harus memberikan manfaat kepada masyarakat dan membuka lapangan kerja bagi anak-anak Papua. Alam harus tetap dijaga karena itulah kekayaan yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya.”
Dari perairan biru Teluk Cenderawasih, Merah Putih berkibar membawa pesan kemerdekaan dengan makna baru: Papua menjaga alamnya, masyarakat menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri, dan generasi mudanya mendapatkan peluang untuk membangun masa depan melalui pariwisata.
