Cak Sholeh Pulang, Gus Din Kenang Guru Politiknya

Syafrudin Budiman mengenang almarhum H. Mohammad Sholeh sebagai senior, guru politik, kawan seperjuangan, sekaligus sosok kritis yang banyak membentuk perjalanan politiknya sejak era Reformasi.

Politik10 Dilihat

Kabar wafatnya H. Mohammad Sholeh, S.H., M.H., atau yang akrab disapa Cak Sholeh, meninggalkan duka mendalam bagi Syafrudin Budiman, S.IP. Sosok pengacara yang dikenal sebagai inisiator gerakan “No Viral No Justice” itu bukan sekadar senior baginya, melainkan guru politik dan kawan seperjuangan yang ikut membentuk perjalanan panjangnya sejak masa muda.

Bagi Syafrudin yang akrab disapa Gus Din, Cak Sholeh memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan intelektual dan politiknya. Keduanya pernah sama-sama menempuh pendidikan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) dan terlibat dalam aktivitas politik pada masa awal Reformasi.

Syafrudin mengenang Cak Sholeh sebagai orang yang pertama kali mengajaknya lebih jauh mengenal dunia demonstrasi, diskusi politik, organisasi kepartaian, hingga kerja-kerja propaganda politik.

“Cak Sholeh adalah senior saya di kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan guru saya dalam politik kepartaian. Dia yang mengajak saya demo, bicara politik, masuk partai, dan menjadi propagandis,” kenang Syafrudin.

Menurutnya, Cak Sholeh memiliki kemampuan analisis politik yang tajam serta cara berpikir kritis. Namun, karakter independen dan keberaniannya mempertahankan pandangan membuat perjalanan politiknya tidak selalu mudah.

Syafrudin masih mengingat salah satu pernyataan Cak Sholeh mengenai sulitnya masuk dalam sebuah sistem tanpa harus tunduk terhadap kepentingan tertentu.

“Susah masuk sistem kalau tidak tunduk,” kata Cak Sholeh sebagaimana dikenang Syafrudin.

Pernyataan tersebut justru menjadi salah satu pemantik bagi Syafrudin untuk membuktikan bahwa seseorang tetap dapat masuk ke dalam sistem tanpa kehilangan sikap kritis dan independensi pemikiran.

“Saya waktu itu justru ingin membuktikan sebaliknya. Kita tetap bisa masuk ke dalam sistem tanpa harus tunduk. Cara berpikir radikal dan kritis tetap bisa berada dalam sistem selama apa yang diperjuangkan benar serta berdasarkan fakta dan data,” ujar Syafrudin.

Persahabatan keduanya sudah terbangun sejak masa muda. Syafrudin mengenang ketika dirinya berusia sekitar 19 tahun dan Cak Sholeh sekitar 23 tahun, almarhum pernah datang dan menginap di rumah keluarganya di Sumenep, Madura.

Peristiwa itu terjadi pada masa sosialisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) menjelang Pemilu 1999. Saat itu, Syafrudin mendapat amanah sebagai Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK-PRD) Kabupaten Sumenep, sedangkan Cak Sholeh menjabat Ketua KPW PRD Jawa Timur.

Bagi Syafrudin, periode tersebut menjadi salah satu fase penting dalam proses pembentukan dirinya. Masih berusia sangat muda, ia harus belajar memimpin struktur politik tingkat kabupaten tidak lama setelah mengikuti pendidikan dan kursus politik.

“Baru beberapa bulan setelah kursus politik, saya malah didaulat menjadi ketua di kabupaten. Masih sangat muda waktu itu. Benar-benar menjadi tantangan pada masa muda,” kenangnya.

Selepas Pemilu 1999, keduanya kembali melanjutkan kehidupan akademik. Cak Sholeh kemudian berpindah ke Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya setelah sebelumnya menempuh studi Ilmu Politik, sementara Syafrudin berpindah ke Program Studi Ilmu Politik FISIP UWKS dari FKIP Bahasa Inggris.

Kesamaan latar belakang membuat keduanya semakin dekat. Sama-sama berasal dari Madura, berkecimpung dalam aktivitas politik, menempuh pendidikan di lingkungan kampus yang sama, serta memiliki tradisi berpikir kritis, membuat Cak Sholeh dan Syafrudin bahkan kerap dianggap sebagai saudara.

Cak Sholeh berasal dari Sampang dan tumbuh di Sidoarjo, sementara Syafrudin berasal dari Sumenep dan banyak menjalani masa pendidikan serta aktivitas politiknya di Surabaya.

Perjalanan politik kemudian membawa keduanya menempuh jalur berbeda tanpa memutus hubungan personal maupun intelektual. Pada Pemilu 2014, Cak Sholeh maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra untuk Daerah Pemilihan Jawa Timur I dengan nomor urut 4.

Pada pemilu yang sama, Syafrudin maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional untuk daerah pemilihan yang sama dengan nomor urut 7.

Meski keduanya belum berhasil memperoleh kursi parlemen, pengalaman tersebut meninggalkan kenangan tersendiri. Guru dan murid yang pernah berada dalam satu ruang perjuangan pada masa muda kembali bertemu dalam gelanggang politik elektoral.

Salah satu kenangan yang masih tersimpan adalah ketika keduanya terlibat dalam sebuah acara talk show di SBO TV yang membahas calon anggota legislatif muda DPR RI. Dalam forum tersebut, Cak Sholeh tampil sebagai moderator sekaligus pengamat politik.

Bagi Syafrudin, perjalanan Cak Sholeh menunjukkan bahwa pengaruh seseorang dalam dunia politik tidak selalu harus diukur dari jabatan formal. Pemikiran, keberanian mengkritik, pengalaman advokasi, serta kemampuannya mendidik generasi yang lebih muda menjadi warisan yang tidak kalah penting.

Kepergian Cak Sholeh meninggalkan kehilangan bagi sahabat, keluarga, kolega, dan orang-orang yang pernah belajar darinya. Bagi Syafrudin, kehilangan tersebut juga menjadi perpisahan dengan salah satu guru yang ikut menanamkan keberanian untuk berpikir kritis dan menentukan jalan politik sendiri.

“Selamat jalan guru politik yang tidak pernah kehilangan keberanian berpikir kritis. Banyak pelajaran dan kenangan yang akan tetap saya simpan,” ujar Syafrudin.

Ia menutup catatan perpisahannya dengan mengenang kembali semangat perjuangan yang pernah mereka jalani bersama sejak masa muda.

“Selamat jalan, Cak Sholeh. Satu perlawanan, satu perubahan. Rebut demokrasi,” pungkas Gus Din.

Catatan: Syafrudin Budiman, S.IP.