Rupiah Lemah Itu Taktis: Mengubah Kepanikan Menjadi Momentum Kedaulatan Industri Nasional

Kolom Pakar | Ekonomi Makro & Kebijakan (Kitabaru)

Pelemahan Rupiah kerap dianggap sebagai bencana. Padahal, jika dikelola dengan strategi kontra-ekonomi yang kuat, ia bisa menjadi senjata ampuh untuk merebut kedaulatan industri nasional.

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

KITABARU, OPINI – Setiap kali nilai tukar Rupiah melemah, lanskap ekonomi Indonesia hampir selalu diwarnai dengan kepanikan serentak. Harga barang merangkak naik, biaya hidup mencekik, dan kekhawatiran akan hantu krisis ekonomi kembali memenuhi ruang publik. Pelemahan mata uang, ironisnya, sering kali hanya ditafsirkan sebagai bentuk kegagalan ekonomi semata.

Padahal, jika kita membedah sejarah pembangunan dunia, banyak negara maju justru sengaja menggunakan pelemahan mata uangnya sebagai momentum strategis untuk memperkuat industri nasional dan meledakkan volume ekspor domestik. Negara-negara Asia Timur telah membuktikan secara empiris bahwa mata uang yang lemah tidak selalu identik dengan kehancuran, melainkan instrumen ampuh untuk mengakselerasi industrialisasi.

Taktik Moneter Tiongkok dan Filipina

Tiongkok adalah preseden paling nyata. Selama bertahun-tahun, Beijing mempertahankan nilai tukar Yuan pada level yang relatif rendah. Tujuannya satu: agar produk manufaktur mereka memiliki daya saing absolut di pasar global. Strategi ini sukses membuat barang “Made in China” jauh lebih murah dibanding kompetitornya. Hanya dalam beberapa dekade, Tiongkok bertransformasi dari negara agraris miskin menjadi sentra manufaktur dunia.

Pelemahan mata uang di sana tidak diratapi sebagai bencana nasional, melainkan dirayakan sebagai alat untuk memperbesar skala industri dan menyerap tenaga kerja secara masif.

Fenomena serupa terjadi di Filipina. Ketika Peso melemah, volume ekspor komponen elektronik dan arus remitansi justru melonjak tajam karena produk dan jasa mereka menjadi sangat kompetitif di pasar global. Situasi ini menegaskan bahwa mata uang lemah tidak otomatis menghancurkan fondasi ekonomi, selama negara memiliki basis produksi yang memadai dan strategi kontra-ekonomi politik yang dahsyat.

Kutukan “Negeri Impor” dan Kerdilnya Industrialisasi

Lantas, mengapa Indonesia merana saat Rupiah anjlok? Masalahnya berakar pada kebobrokan struktur ekonomi kita sendiri. Ketika Rupiah melemah, harga barang dalam negeri ikut meroket karena industri nasional nyaris sepenuhnya bergantung pada asupan impor: ilmu impor, mesin impor, energi impor, hingga teknologi impor.

Akibatnya, alih-alih meraup untung dari ekspor, pelemahan Rupiah justru bermutasi menjadi imported inflation (inflasi impor). Negara lain memanfaatkan mata uang lemah untuk memacu produksi, sedangkan kita terjebak dalam himpitan biaya hidup. Inilah kutukan “negeri impor dan konsumtif” yang selama ini kita pelihara.

Lebih miris lagi, stagnasi ekspor UMKM nasional menjadi bukti sahih kegagalan industrialisasi ini. Hingga kini, kontribusi UMKM terhadap total ekspor nasional mandek di kisaran 15,6%. UMKM kita masih berkutat di pasar domestik, jauh dari rantai pasok global. Padahal, di banyak negara industri Asia, UMKM adalah tulang punggung ekspor.

Visi Soemitro: Industrialisasi adalah Proyek Kedaulatan

Dalam diskursus yang tertuang pada buku “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” (2026), dijelaskan bahwa Begawan Ekonomi Soemitro sejak awal meyakini: kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi hanya akan melahirkan neokolonialisme yang lebih halus. Industrialisasi bukan sekadar proyek dagang, melainkan proyek kedaulatan nasional.

Indonesia memiliki segala prasyarat untuk menjadi raksasa industri: sumber daya alam melimpah, bonus demografi, pasar domestik yang masif, dan posisi geopolitik yang strategis. Pelemahan Rupiah sejatinya adalah tiket emas untuk membuat komoditas andalan kita—rempah, kopi, kakao, sawit, perikanan, hingga agroindustri—merajai pasar dunia. Namun, peluang itu menguap karena rantai produksi kita masih disandera oleh pihak asing.

“Negara tidak boleh hanya menjadi penonton mekanisme pasar global. Negara harus hadir sebagai arsitek pembangunan nasional. Negara harus memiliki keberanian melindungi industri strategis, memperkuat kapasitas produksi domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.”

— Pemikiran Soemitro Djojohadikusumo

Pertarungan Ideologis, Bukan Sekadar Angka

Dunia saat ini sedang bergerak ke arah nasionalisme ekonomi ekstrem. Amerika Serikat mati-matian melindungi industrinya; Tiongkok agresif berekspansi; India galak memberlakukan substitusi impor. Sementara itu, Indonesia masih terbuai dengan pola ekonomi konsumtif yang ringkih.

Oleh karena itu, pelemahan Rupiah hari ini bukan sekadar urusan pergerakan kurs di papan bursa. Ini adalah pertarungan struktural, pertarungan kejeniusan, dan pertarungan ideologis tentang ke mana arah kapal besar bangsa ini dilabuhkan. Negara yang kuat bukan dinilai dari stabilnya nilai mata uang semata, melainkan kemampuannya menjaga martabat ekonomi agar tak mudah didikte kekuatan global.

Saatnya Rupiah berdaulat. Saatnya kita mencari ekonom yang paham taktik memenangkan perang kurs dan turunannya. Saatnya kita memiliki pemimpin yang berani merealisasikan kedaulatan mutlak di segala lini.