JAKARTA — Ketua Gerakan Karya Justitia Indonesia (GKJI) Kabupaten Tangerang, H. Imam Fachrudin, bersilaturahmi dengan tokoh nasional sekaligus mantan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, H. Oetojo Oesman, S.H., di kediamannya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Selain menjadi momentum silaturahmi, keduanya berdiskusi mengenai perjalanan panjang Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), nilai-nilai perjuangan organisasi, serta relevansi filosofi kekaryaan bagi kader di tengah perubahan zaman.
H. Oetojo Oesman merupakan salah satu tokoh senior nasional yang pernah dipercaya menjabat Menteri Kehakiman Republik Indonesia. Dalam perjalanan organisasinya, ia juga pernah memimpin Dewan Pimpinan Nasional SOKSI menggantikan Prof. Dr. Suhardiman.
Imam mengaku bersyukur memperoleh kesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dengan Oetojo Oesman. Pertemuan tersebut juga memiliki nilai emosional tersendiri karena terdapat hubungan historis antara Oetojo Oesman dengan ayah Imam dalam perjalanan organisasi SOKSI pada masa lalu.
“Saya sangat berterima kasih kepada beliau, Pak Oetojo, yang telah berkenan menerima kunjungan saya untuk sekadar bercengkerama dan bernostalgia saat dulu beliau bersama ayah saya di SOKSI,” kata Imam dengan penuh semangat.
Semangat Kekaryaan Tetap Menyala di Usia 91 Tahun
Imam mengatakan pertemuan tersebut memberikan kesan mendalam. Meski telah berusia 91 tahun, Oetojo Oesman dinilai masih menunjukkan semangat tinggi ketika menjelaskan sejarah, idealisme, serta filosofi perjuangan SOKSI.
Menurut Imam, pembicaraan tidak hanya berhenti pada romantisme perjalanan organisasi di masa lalu, tetapi juga menyentuh persoalan mendasar mengenai bagaimana nilai-nilai kekaryaan harus tetap hidup dan diterjemahkan oleh generasi kader saat ini.
Filosofi kekaryaan tidak cukup hanya dipahami melalui slogan, simbol, maupun sejarah organisasi. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui sikap, karya, profesionalisme, pengabdian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Kader SOKSI itu harus khatam memahami dan menjalankan filosofi kekaryaan. Jangan hanya memahami sejarahnya, tetapi harus tahu nilai, arah perjuangan dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan organisasi maupun pengabdian kepada masyarakat,” tutur Imam mengingat kembali pesan yang disampaikan H. Oetojo Oesman.
GKJI Tumbuh dari Semangat Filosofi Kekaryaan
Imam menjelaskan bahwa Gerakan Karya Justitia Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan gagasan dan filosofi kekaryaan yang berkembang dalam perjalanan SOKSI.
Karena itu, sebagai Ketua GKJI Kabupaten Tangerang sekaligus kader yang memahami perjalanan kekaryaan, Imam menilai terdapat tanggung jawab untuk terus merawat dan mengembangkan semangat tersebut melalui program organisasi yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“GKJI ini merupakan hasil dari buah pemikiran yang mendalam dari filosofi kekaryaan yang dimiliki oleh SOKSI. Oleh karenanya, perlu kiranya dibangun suatu upaya yang terus-menerus untuk membangkitkan perjuangan kekaryaan yang harus kita junjung tinggi,” ujar Imam.
Menurutnya, filosofi kekaryaan tetap relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini. Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik yang semakin cepat, kader organisasi dituntut mampu menunjukkan kontribusi melalui profesionalisme, etos kerja, integritas dan karya konkret.
Bukan Sekadar Menjaga Sejarah
Imam berpandangan salah satu tantangan penting organisasi kader adalah menjaga kesinambungan nilai perjuangan dari generasi senior kepada generasi berikutnya.
Sejarah organisasi memang penting sebagai sumber identitas dan pembelajaran, tetapi tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu. Nilai perjuangan harus terus dihidupkan melalui bentuk pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Dalam konteks tersebut, kader SOKSI maupun GKJI didorong untuk memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat, memahami dinamika kebangsaan, serta mampu menghadirkan solusi sesuai bidang keahlian dan profesinya masing-masing.
“Kekaryaan harus memiliki makna kerja nyata. Seorang kader harus dapat menunjukkan apa yang bisa dia berikan kepada masyarakat, organisasi dan bangsa,” kata Imam.
Warisan Pemikiran Senior Harus Diteruskan
Imam menilai keberadaan tokoh-tokoh senior seperti H. Oetojo Oesman merupakan sumber pengalaman dan pengetahuan yang penting bagi kader-kader generasi berikutnya.
Pengalaman para pendahulu dalam membangun organisasi, menghadapi perubahan politik, serta mempertahankan prinsip perjuangan perlu terus didokumentasikan dan diwariskan melalui proses kaderisasi.
Ia berharap dialog antargenerasi dapat semakin sering dilakukan agar kader tidak kehilangan akar sejarah sekaligus mampu memahami alasan dan nilai yang melandasi arah perjuangan organisasi.
Menurut Imam, kaderisasi yang kuat tidak hanya mengajarkan struktur dan mekanisme organisasi, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, kemampuan berpikir, loyalitas terhadap nilai serta tanggung jawab sosial.
Kekaryaan Harus Hadir dalam Pengabdian
Dalam refleksinya setelah pertemuan tersebut, Imam menegaskan bahwa filosofi kekaryaan pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian.
Nilai kekaryaan tidak boleh berhenti dalam diskusi internal organisasi, melainkan harus hadir dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, politik, kewirausahaan dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menilai seorang kader yang memahami filosofi kekaryaan seharusnya mampu menunjukkan kualitas melalui karya yang bermanfaat, bukan sekadar melalui jabatan atau posisi dalam organisasi.
“Tentunya sebagai kader SOKSI dan pengurus GKJI, kita harus terus merawat semangat perjuangan SOKSI dan GKJI, untuk sekarang dan nanti,” pungkas Imam.
Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi momentum bagi H. Imam Fachrudin untuk kembali meneguhkan komitmennya dalam merawat kesinambungan nilai perjuangan para senior dan menerjemahkannya dalam agenda GKJI Kabupaten Tangerang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Bagi Imam, pesan Oetojo Oesman mengenai pentingnya kader “khatam” filosofi kekaryaan menjadi pengingat bahwa organisasi besar tidak hanya bertahan karena struktur, tetapi karena kader-kadernya memahami nilai, memiliki karakter, serta mampu membuktikan pengabdiannya melalui karya nyata.
(SAE/Red)













