May Day, Anggota DPRD Sumenep Akhmadi Yazid Tekankan Perlindungan Tenaga Kerja Secara Informal

Uncategorized22 Dilihat

Sumenep||Kitabaru.com_Momentum May Day menjadikan sebuah refleksi oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Akhmadi Yasid mengingatkan agar peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang jatuh setiap tanggal 1 Mei untuk tidak terjebak dalam rutinitas tahunan tanpa makna.

Lebih jauh momentum ini seharusnya menjadi titik balik nyata dalam memperjuangkan nasib buruh, bukan sekadar seremoni simbolik yang minim dampak. Ia menilai selama ini peringatan May Day masih cenderung bersifat formalitas. Ia mendorong agar seluruh pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga pemangku kebijakan, menjadikan Hari Buruh sebagai momen refleksi dan aksi nyata.

“Momentum Hari Buruh jangan hanya menjadi rutinitas tahunan yang dipenuhi seremoni dan slogan,” ujarnya (01/05).

Menurut politisi dari daerah pemilihan II tersebut, keberpihakan terhadap buruh harus diwujudkan melalui kebijakan yang konkret dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa negara, pemerintah daerah, serta perusahaan memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan keadilan bagi pekerja.

“ Ini harus menjadi titik balik bagaimana semua pihak benar-benar memperjuangkan kepentingan buruh secara nyata,” katanya.

Yasid mengungkapkan, hingga saat ini masih banyak persoalan dan pekerjaan rumah pada sektor ketenagakerjaan yang belum terselesaikan secara tuntas. Mulai dari isu klasik seperti upah yang belum sepenuhnya layak, perlindungan kesehatan, hingga jaminan keselamatan kerja yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai pihak.

Sebagai anggota Komisi III DPRD Sumenep, ia juga menaruh perhatian khusus pada keberadaan tenaga kerja di sektor informal. Ia menilai kelompok ini sering kali berada di luar jangkauan perlindungan kebijakan, padahal kontribusinya terhadap ekonomi sangat besar.

“Perlindungan tenaga kerja informal juga harus diperhatikan secara serius,” tandasnya.

Ia menambahkan bahwa sektor informal selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, terutama di daerah. Oleh karena itu, sudah seharusnya negara hadir memberikan perlindungan yang memadai, baik dalam bentuk regulasi maupun program pemberdayaan.

Lanjutnya, Yasid menegaskan bahwa buruh merupakan elemen penting dalam menggerakkan roda ekonomi daerah. Tanpa peran mereka, aktivitas produksi dan distribusi tidak akan berjalan optimal. Karena itu, kesejahteraan pekerja harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan.

“Buruh tidak boleh hanya dijadikan objek produksi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi buruh untuk berkembang, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial. Peningkatan kapasitas dan akses terhadap peluang yang lebih baik menjadi kunci untuk menciptakan keseimbangan dalam hubungan industrial.

Dalam konteks May Day 2026, Yasid berharap momentum ini dapat menjadi awal kebangkitan ekonomi bagi kaum buruh sebagai mana cita-cita sejarah yang sudah tertulis. Ia menginginkan adanya perubahan nyata yang mampu meningkatkan daya tawar dan kualitas hidup pekerja.

“Buruh harus semakin kuat, sejahtera, dan punya kesempatan meningkatkan taraf hidup,” tegasnya.

Selain itu, mantan wartawan tersebut turut menyoroti tantangan dunia kerja yang semakin kompleks akibat perkembangan teknologi dan arus digitalisasi. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesiapan yang matang, tenaga kerja lokal berpotensi tertinggal dalam persaingan.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah agar lebih serius dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui berbagai program pelatihan dan pendidikan vokasi. Pembukaan akses terhadap lapangan kerja baru juga dinilai menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan zaman.

“Pemerintah harus serius menyiapkan pelatihan dan membuka akses lapangan kerja baru,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi otomatisasi yang semakin masif di berbagai sektor industri. Tanpa peningkatan keterampilan, buruh berisiko tergeser oleh teknologi yang terus berkembang.

Tidak lupa ia menekankan pentingnya menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan tanpa ketimpangan serta penghisaoan. Ia mengingatkan agar perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari keberlanjutan usaha.

“Perusahaan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan semata,” pungkasnya.

Pewarta : Zaitur