ASDO, Meniti Jalan Pengabdian dari Dawuan: 25 Tahun Perjuangan, Dedikasi dan Keteguhan untuk Masyarakat

banner 468x60

KARAWANG — Tidak semua perjalanan hidup dibangun dari kemudahan. Sebagian justru lahir dari keberanian untuk turun ke tengah masyarakat, menghadapi persoalan, menyerap aspirasi dan terus berjalan meski tantangan datang silih berganti.

Perjalanan itu pula yang mewarnai kiprah Asep Saepudin, atau yang lebih dikenal dengan sapaan ASDO, putra daerah kelahiran Dawuan, Cikampek.

banner 336x280

Sejak awal 2001, ketika usianya masih sekitar 25 tahun, ASDO mulai dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah sebagai anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Dawuan Tengah periode 2001–2006.

Lima tahun kemudian, kepercayaan itu kembali diberikan. ASDO dipercaya menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dawuan Tengah periode 2006–2012.

Bagi seorang pemuda, amanah tersebut bukan sekadar jabatan. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, menyerap aspirasi warga dan ikut memastikan pembangunan desa berjalan untuk kepentingan bersama.

Dari Bangku Desa, Belajar Tentang Perjuangan

Dawuan menjadi tempat ASDO belajar tentang arti pengabdian yang sesungguhnya.

Ia berada langsung di tengah masyarakat, menyaksikan berbagai persoalan warga, mulai dari kebutuhan infrastruktur, akses pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan hingga persoalan ekonomi.

Dalam berbagai kesempatan, ASDO memilih untuk hadir bersama masyarakat.

Semangat gotong royong menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bersama warga, ia ikut mendorong pembangunan dan berbagai kegiatan sosial di lingkungan Desa Dawuan Tengah.

Bagi ASDO, pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, pengabdian justru dimulai dari kesediaan mendengar keluhan seorang warga, membantu mencari jalan keluar, atau berdiri bersama masyarakat ketika mereka membutuhkan perhatian.

Ketika Kritik Menjadi Jalan Perjuangan

Memasuki dunia aktivisme, karakter ASDO semakin terbentuk.

Ia dikenal memiliki keberanian menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai menyentuh kepentingan masyarakat.

Namun bagi ASDO, keberanian mengkritik harus berjalan beriringan dengan keberanian mencari solusi.

Prinsip tersebut membuatnya tidak berhenti pada menyampaikan aspirasi.

Ketika melihat persoalan ekonomi dan keterbatasan lapangan pekerjaan di tengah masyarakat, ASDO mencoba mencari peluang yang dapat dimanfaatkan warga.

Cikampek yang tumbuh sebagai kawasan industri menjadi salah satu perhatian.

Ia membangun komunikasi dengan sejumlah perusahaan dan berupaya menjembatani masyarakat sekitar agar memiliki akses terhadap peluang pekerjaan.

Baginya, perjuangan membantu masyarakat mendapatkan pekerjaan merupakan bagian dari upaya yang lebih besar: membuka jalan agar keluarga-keluarga di sekitar kawasan industri dapat meningkatkan taraf kehidupannya.

Melewati Banyak Ruang, Tetap Berpijak pada Masyarakat

Perjalanan ASDO kemudian berkembang melewati berbagai ruang.

Ia aktif dalam organisasi kepemudaan, pernah terlibat dalam dunia politik dan dipercaya memimpin perusahaan di wilayah kawasan industri.

Setiap fase memberikan pengalaman berbeda.

Dari pemerintahan desa, ia belajar mengenai pelayanan dan tata kelola masyarakat.

Dari organisasi, ia belajar tentang kepemimpinan, komunikasi dan membangun kekuatan bersama.

Dari dunia politik, ia memahami dinamika perjuangan aspirasi.

Sementara dari dunia usaha, ia mendapatkan pengalaman mengenai ekonomi, kesempatan kerja dan tantangan dunia industri.

Berbagai pengalaman tersebut kemudian membentuk ASDO menjadi sosok yang memiliki perspektif lebih luas dalam melihat persoalan masyarakat.

Namun satu hal yang tetap dipertahankan: kedekatan dengan masyarakat.

Jabatan datang dan pergi. Posisi dapat berubah. Tetapi kepedulian terhadap masyarakat, menurut ASDO, harus tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Memilih Jalan Pengabdian yang Lebih Luas

Memasuki 2026, perjalanan ASDO belum berhenti.

Kini, ia juga aktif bersama tim advokat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jala Paksi, terutama dalam kegiatan edukasi hukum dan pendampingan masyarakat.

Langkah tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.

Jika dahulu perjuangan banyak dilakukan melalui pemerintahan desa, organisasi dan advokasi sosial, kini ASDO ikut mendorong masyarakat agar memiliki pemahaman hukum yang lebih baik.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui haknya. Mereka juga harus memahami kewajibannya dan mengetahui langkah yang tepat ketika berhadapan dengan persoalan hukum.

Edukasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah kehilangan hak hanya karena keterbatasan pengetahuan.

25 Tahun, Sebuah Perjalanan yang Tidak Singkat

Dari 2001 hingga 2026, perjalanan ASDO telah melewati sekitar seperempat abad.

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat.

Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman, keberhasilan, tantangan, kritik, perjuangan dan proses panjang membangun kepercayaan masyarakat.

Dari seorang pemuda Dawuan yang mulai dipercaya menjadi anggota BPD, kemudian dipercaya memimpin BPD, aktif di organisasi, memasuki dunia politik dan usaha, hingga kini bergerak dalam edukasi serta pendampingan hukum.

Semua fase tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang anak daerah yang memilih untuk tidak meninggalkan akar pengabdiannya.

Bagi ASDO, ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa tinggi posisi yang pernah ditempati.

Lebih dari itu, keberhasilan adalah ketika keberadaan seseorang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

«“Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan mereka, memberikan pemahaman, dan sebisa mungkin ikut membantu mencari solusi.”»

Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana dari filosofi perjalanan ASDO.

Ia tidak sedang membangun cerita tentang sebuah jabatan.

Ia sedang menjalani sebuah perjalanan panjang tentang kepercayaan, perjuangan dan pengabdian.

Dari Dawuan, langkah itu dimulai.

Dari masyarakat, kepercayaan itu tumbuh.

Dan melalui pengalaman panjang selama 25 tahun, ASDO terus berupaya menjaga satu prinsip: hadir ketika masyarakat membutuhkan, berani menyuarakan aspirasi dan memberikan manfaat selama masih memiliki kemampuan untuk mengabdi.

Sebab pada akhirnya, prestise terbesar seorang anak daerah bukanlah ketika namanya dikenal karena jabatan.

Melainkan ketika perjalanan hidupnya meninggalkan jejak kebaikan dan masyarakat masih mengingatnya sebagai seseorang yang pernah hadir dan berjuang bersama mereka.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed