SYAFRUDIN BUDIMAN, S.IP. “GUS DIN”Meniti Jejak Pengabdian dari Tradisi Pergerakan hingga Profesional BUMN

Uncategorized11 Dilihat

JAKARTA — Syafrudin Budiman, S.IP., atau Gus Din, merupakan figur yang tumbuh dari lingkungan keluarga dengan tradisi dakwah, pendidikan, Muhammadiyah dan organisasi. Putra almarhum Ustadz Ach. Zainuddin HR dan almarhumah Mardhiyah, serta cucu almarhum Ustadz/KH Abdul Kadir Muhammad, ia mewarisi nilai pengabdian yang kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang di ruang sosial, intelektual dan kebangsaan.

Jejak kepemimpinannya mulai terasah ketika menempuh pendidikan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan aktif dalam dunia kemahasiswaan serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Berbagai amanah organisasi dan pengalaman memimpin forum nasional, termasuk Presidium Sidang Muktamar IMM XII di Ambon, membentuk karakter kepemimpinannya sekaligus mengantarkannya dikenal dengan julukan “Macan Sidang.”

Dari ruang pergerakan, Gus Din kemudian memasuki dunia jurnalistik melalui kiprahnya di Surabaya Post. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya dalam membaca dinamika sosial dan politik, yang kemudian diperdalam melalui pendidikan Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional Jakarta serta aktivitas di bidang komunikasi publik dan politik.

Dalam panggung politik nasional, Gus Din pernah mengambil bagian dalam berbagai dinamika dukungan politik, mulai dari Prabowo-Hatta, gerakan relawan Jokowi, hingga relawan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. Di luar politik elektoral, perhatiannya terhadap UMKM, koperasi dan ekonomi kerakyatan diwujudkan melalui aktivitas organisasi serta pendirian Partai UKM Indonesia dan kiprahnya di Perhimpunan UKM Indonesia.

Lintasan pengabdiannya kemudian memasuki ranah profesional ketika Gus Din dipercaya sebagai Komisaris PT Jasa Marga Related Business (JMRB). Perjalanan tersebut menjadi rangkaian transformasi dari aktivis mahasiswa, jurnalis dan intelektual politik menjadi penggerak ekonomi kerakyatan, relawan politik hingga profesional BUMN—sebuah perjalanan yang mempertemukan pengalaman, gagasan dan pengabdian dalam ruang yang terus berubah.

Dari keluarga ia menyerap nilai, dari pergerakan ia menempa kepemimpinan, dari jurnalistik ia belajar membaca realitas, dari politik ia memahami dinamika kebangsaan, dan dari dunia profesional ia mengemban tanggung jawab tata kelola.