Kitabaru.com, Jakarta – Saat perang meletus, Jepang dan Korea segera merapat ke Indonesia. Kepentingannya jelas mengamankan pasokan gas, batubara dan komoditas lainnya. Berikutnya India dan China juga pasti merapat untuk mengamankan pasokan batubara dan komoditas lainnya. Dua yang paling penting adalah gas dan Batubara. Komoditas yang lain juga penting tergantung negara yang memerlukan.
Apa boleh buat, Indonesia tidak mau perang. Tapi kalau belahan dunia lain asah parang memprovokasi perang, memboikot pasokan minyak, mensabotase selat yang menjadi jalur distribusi minyak dan lain sebagainya, Indonesia juga bisa ikutan perang karena memiliki selat yang sangat strategis yakni selat Lombok dan selat malaka. Tapi Indonesia wajib tidak boleh melakukan itu semua karena kewajiban Indonesia menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Tapi kalau perang negara negara yang sedah asah parang dan siap berkelahi tetap terjadi, dan Indonesia berat untuk mendamaikan mereka, maka biarlah sementara Indonesia menabung uang di saat perang ini. Darimana tabungan uang tersebut? Tidak lain adalah dari komoditas utama sumber daya alam yang dihasilkan oleh Indonesia yang selama ini memberi banyak kepada dunia. Semua komoditas tersebut naik harganya karena perang bukan karena ulah Indonesia. Melawan ini semua, minyak pasti mati gaya. Apalagi Indonesia sekarang surplus listrik hingga 75 persen dari kebutuhan nasional.
Apa saja komoditas tersebut? Baturara Indonesia eksportir terbesar di dunia, CPO Indonesia eksportir dan produsen terbesar di dunia, gas alam Indonesia eksportir ke 3 terbesar di dunia, nickel Indonesia pemilik cadangan, eksportir, dan produsen terbesar di dunia, Mineral penting lainnya emas perak tembaga timah bouksit dan lainya Indonesia produsen dan eksportir 10 besar di dunia. Mainkan dengan benar, tabung uang hasil menjualnya, untuk bangsa Indonesia dan untuk menolong dunia.
Mari ambil pelajaran pada saat perang Russia vs Ukraina, harga batubara pada tahun 2022 mengalami kenaikan signifikan. Pada April 2022, harga batubara acuan mencapai 288,40 USD/ton, meningkat 41,58% dari Maret 2022. Kenaikan ini disebabkan oleh sanksi embargo Amerika dan Eropa terhadap Rusia, serta penurunan dampak pandemi Covid-19 yang meningkatkan kebutuhan energi. Pada September 2022, harga batubara acuan mencapai 319,22 USD/ton, namun kemudian turun menjadi 288,40 USD/ton pada April 2022. Harga batubara juga pernah mencapai rekor tertinggi pada September 2022, yaitu 457,80 USD/ton.
Coba bayangkan saja sekarang harga batubara sudah naik mendekati ke 150 dollar per ton. Negara atau pemerintah Prabowo ambil ekornya saja kenaikan nya ini, yakni 40 dollar per ton buat negara, 100 buat pengusaha swasta pemilik tambang batubara. Maka dengan produksi 1 miliar ton setahun maka pemerintah bisa nabung 40 – 50 miliar dollar setahun. Itu setara dengan Rp. 700 trilin sampai Rp. 800 triliun. Sepertiga dari nilai tersebut dapat mengamankan harga BBM walaupun Iran Israel dan AS meratakan selat Hormuz atau biaya pemakaian di selat Hormuz dinaikkan 1000 persen. Kalau Indonesia mengerti ora masalah! (red)
















