BANDUNG — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di lingkungan RW 10 Kelurahan Dungus Cariang, Kecamatan Andir, Kota Bandung, berlangsung meriah dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Mengusung tema “Nawasena: Mapag Pajajaran Anyar” dengan slogan “Niskala Ka Sakala”, perayaan tahun ini menjadi momentum istimewa bagi warga untuk menyambut masa depan dengan semangat dan harapan baru.
Tema tersebut memiliki makna yang kuat bagi masyarakat RW 10, terutama dalam menyambut kepemimpinan Ketua RW 10 yang baru, Harry Kurniawan, S.H. Nawasena merepresentasikan semangat menatap masa depan, sementara “Mapag Pajajaran Anyar” menjadi simbol kesiapan menyongsong babak baru dengan membangun lingkungan yang semakin harmonis, partisipatif, terbuka, dan berdaya.
Sementara slogan “Niskala Ka Sakala” mengandung pesan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sesuatu yang belum terlihat—gagasan, harapan, dan niat baik—sebelum kemudian diwujudkan menjadi tindakan serta manfaat nyata. Semangat inilah yang menjadi ruh perayaan, bahwa kebersamaan tidak berhenti pada perayaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi karya dan pengabdian bagi masyarakat.
Puncak kegiatan dipimpin langsung oleh Harry Kurniawan, S.H., selaku Ketua RW 10 sekaligus penanggung jawab kegiatan, dan turut dihadiri Nurma Safarini, A.KS., M.M., Sekretaris Kecamatan Andir, yang mewakili Camat Andir Jon Heri, A.P., M.M., serta Dikdik Buldansyah, S.E., Lurah Dungus Cariang. Kehadiran unsur pemerintahan tersebut mencerminkan sinergi positif antara masyarakat dan pemerintah kewilayahan.
Kemeriahan perayaan semakin terasa melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari Senam Club Teh Rini Zumba Sessions, penampilan Duo GEBER Turbo, sajian food and beverage, hingga beragam hiburan lainnya. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan nilai yang lebih penting, yakni terbangunnya ruang interaksi yang mempertemukan warga dari berbagai usia dalam suasana akrab, guyub, dan penuh kekeluargaan.
Peran generasi muda turut menjadi bagian penting dalam suksesnya kegiatan. Anwar Jaelani selaku perwakilan Karang Taruna RW 10, bersama jajaran kepemudaan, ikut mendukung persiapan hingga pelaksanaan acara. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa anak muda bukan sekadar penerus, melainkan energi penting yang mampu menggerakkan kehidupan sosial dan membangun masa depan lingkungan.
Harry Kurniawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, masyarakat, Karang Taruna, unsur pemerintahan, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Camat Andir Jon Heri beserta Sekretaris Kecamatan Nurma Safarini yang mewakili, serta Lurah Dungus Cariang Dikdik Buldansyah yang berkenan hadir di tengah kesibukan menjalankan tugas pemerintahan.
«“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah memberikan dukungan luar biasa. Terima kasih kepada Bapak Camat Andir Jon Heri beserta Ibu Sekcam yang mewakili, Bapak Lurah Dungus Cariang, serta rekan-rekan Karang Taruna, termasuk Saudara Anwar Jaelani sebagai perwakilan yang turut membantu persiapan kegiatan. Semuanya telah memberikan energi dan kontribusi terbaik untuk menghadirkan acara bagi seluruh masyarakat RW 10,” ujar Harry.»
Bagi Harry, kepemimpinan di tingkat RW tidak semata-mata berkaitan dengan urusan administratif, tetapi menyangkut bagaimana membangun hubungan sosial yang sehat antara pemimpin dan masyarakat. Komunikasi, keterbukaan, pelayanan, serta kesediaan mendengarkan aspirasi warga menjadi fondasi penting untuk menghadirkan kepemimpinan yang dekat, responsif, dan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat.
Pada akhirnya, “Nawasena: Mapag Pajajaran Anyar” menjadi lebih dari sekadar tema peringatan kemerdekaan. Ia menjadi simbol sebuah awal baru di RW 10 Dungus Cariang—sebuah harapan agar kepemimpinan baru, generasi muda, dan seluruh masyarakat dapat berjalan bersama membangun lingkungan yang semakin guyub, inklusif, harmonis, dan maju. Dengan semangat “Niskala Ka Sakala”, warga menegaskan satu pesan sederhana namun bermakna: dari harapan menjadi nyata, dari kebersamaan menuju kemajuan.
















