Ketika Cinta Berbuah Benci dan Beranak Fitnah

Opini44 Views
banner 468x60

Oleh : HARIOD KRASWIIJD

Kitabaru.com, Jakarta – Dalam cerita gosip artis, sering kita lihat, pasangan awalnya sangat mencintai, hingga membuat iri. Perkawinan mewah. Kehidupan glamour. Tiba-tiba, cerita menukik tajam. Cerita Cinderella berantakan. Perselingkuhan. Pertengkaran. Pengadilan. Perceraian dramatis. Akhirnya, saling tuding dan fitnah. Lalu, Musnah.

banner 336x280

Sekarang kita lihat Politik. PDI. Jokowi.

Tahun 2005 Jokowi menang menjadi walikota Surakarta berpasangan dengan Franciscus Xaverius Hady Rudyatmo.

Tahun 2010, Jokowi menang lagi di Surakarta sebagai walikota dengan FX Hady Rudyatmo

Tahun 2012, Jokowi menang menjadi Gubernur DKI berpasangan dengan Ahok (Basuki Tjahaya Purnama)

Tahun 2014, Jokowi menang menjadi Presiden RI ke-7 berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Tahun 2019, Jokowi, menang periode ke-2 menjadi Presiden Republik Indonesia ke-7 berpasangan dengan Ma”ruf Amin.

Dalam kontestasi yang berurutan, 2005-2024, 19 tahun, Jokowi menang, menang, dan menang terus dan terus.

Langit seperti memberi tangga emas kepada Jokowi, dan malaikat meminjamkan sayapnya, sehingga Jokowi bisa melesat terbang sampai ke puncak kekuasaan negeri ini dengan mudah.

Kaum ningrat politik, akademisi, intelektual, kritikus, oposan geleng-geleng kepala. Bertanya, bagaimana orang yang miskin yang mulanya hidup di bantaran sungai, digusur-gusur dua kali, bisa sampai di puncak kekuasaan.

Jokowi menjadi phenomenal.

Rakyat yang susah, dan terjepit dalam kegelapan hidup, merasakan seolah bumi berhenti berputar, terpana melihat cahaya keajaiban.

Sebuah kalimat yang terpendam lama dan terlupakan oleh rutinitas hidup yang membosankan muncul, everything is possible, semuanya mungkin, bila Tuhan menghendaki.

Luar biasa bangganya orang-orang PDI -P dan para pendukung beliau. Megawati pun tersenyum lebar. Jokowi menjadi ikon emas kesuksesan gemilang PDI-P.

Jokowi memerintah, membuat kebijakan, menenggelamkan kapal perampok ikan, melakukan hilirisasi, menghadapi pengadilan international menyamakan harga BBM di Papua untuk pertama kalinya selama hampir 80 tahun merdeka, merebut Freeport, dan blok-blok minyak, membubarkan Petral. Menghadapi Covid. Mengoyak status Quo. Memangkas aturan berbelit dengan UU Cipta kerja dan banyak lagi.

Kerjanya cepat. Tak terduga. Gaya orang miskin, kerja, kerja, kerja. Karena begitulah orang-orang dalam strata paling bawah, jika tak bangun pagi, dan kerja, rejeki dipatok ayam. Tidak ada malas-malasan.

Jokowi heran dengan orang-orang malas diatas. Heran dengan aturan yang berbelit-belit sehingga banyak program tak kujung rampung. Lebih bingung lagi, ketika menjumpai kas negara kosong, setelah ditinggal penguasa sebelumnya.

Akhirnya, Jokowi sadar hanya ada tiga cara menyelesaikan carut marut bangsa ini, THE RIGHT WAY, THE WRONG WAY, or MY WAY.

Jokowi memilih, “My Way”, Jokowi’s way. Kenapa? The right way, panjang, berbelit, tidak mungkin program rampung dalam lima tahun. The wrong way, meski cepat akan terlalu banyak melabrak aturan.

Tapi Jokowi’s way adalah campuran dari pengalaman hidup susah dan hal-hal paling positif yang telah ia jalani dan tangkap hakekatnya. Inilah jalan yang akan paling cepat dirasakan dampaknya oleh rakyat banyak.

Bukan jalan birokrasi, dan prosedur rumit yang berbelit-belit. Rakyat lapar itu butuh solusi cepat. Bukan prosedur dan narasi.

Di titik inilah muncul pro kontra.

Semua yang dilakukan Jokowi menjadi nampak salah dimata intelektual, akademisi, politisi yang mahir bermain narasi.

Semua lagu kegagalan dinyanyikan. Tujuannya menyandera Jokowi dengan berbagai ancaman dan keributan di parlemen dan di jalan agar melangkah sesuai keinginan mereka.

Jokowi tidak peduli. Jalan terus dengan caranya. Ia hanya fokus pada kerja yang semaksimal mungkin memberi solusi pada rakyat. Bukan memuaskan akademisi atau politisi.

Sayangnya, mereka adalah kelompok yang berpengaruh. Menguasai media sosial. Dan memiliki keahlian buat memelintir semua isyu sehingga Jokowi nampak salah di segala lini.

Dan yang paling mengejutkan muncul dari partainya sendiri. Yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Jokowi adalah petugas partai. Implikasinya, Jokowi harus patuh pada garis partai. Jokowi harus ingat partai yang membesarkannya. Jokowi punya hutang budi. Jokowi bukan siapa-siapa.

Publik tersentak, karena hal itu dikatakan oleh Megawati. Bung Karno, ayah Megawati, pernah menulis surat kepada seorang spiritual, Vivekananda, diantara kata-katanya tertulis, “I am the servant of my people”, aku adalah pelayan rakyatku. BK terkenal sebagai “penyambung lidah rakyat” bukan perpanjangan partai.

Megawati yang selalu meletakkan gambar BK dalam berbagai tampilan poster kampanye nya, narasi “petugas partai” menjadi dibaca banyak orang seperti membuang filosofi ayahnya sendiri. Lalu kenapa dia seperti minta publik mengingat dia keturunan BK dengan poster-poster itu, jika prinsipnya dibuang ke tong sampah?

Yang lebih menyakitkan bagi publik adalah berbagai tindakan Megawati yang dinilai sangat menghina Jokowi. Mendudukkan Jokowi yang saat itu presiden, disebuah bangku kecil, menghadap Mega, yang menunjuk-nunjuk kearah Jokowi seperti seorang pesakitan yang terhina sementara Puan berjalan kesana kemari sibuk merekam peristiwa tersebut.

Apakah ini cara brutal mereka, untuk menyatakan secara publik bahwa Jokowi itu seorang pesuruh rendahan, pembersih lantai, yang sedang menghadap majikannya?

Megawati gagal memahami emosi publik. Bertindak tanpa empati, tidak menyadari bahwa Jokowi saat itu sudah terinternalisasi pada jiwa dan pikiran mayoritas pendukungnya dan menjadi simbol kehormatan dan panutan.

Jokowi mungkin tidak merasa apa-apa, karena beliau selalu mengatakan bukan siapa-siapa. Tapi anehnya, banyak orang diluar sana yang matanya berkaca-kaca, kesal dan sakit hati melihat peristiwa itu.

Suara partai pun makin keras menyudutkan Jokowi.

Cahaya Jokowi diredupkan..Sebuah natasi samar yang menyatakan Jokowi sebagai sosok yang tak tahu berterimakasih, kacang lupa kulit pun dibangun.

Kontestasi Politik 2024 pun tiba. Publik ingin keberlanjutaan Jokowi.

Para capres mengamati hasil.survey. Ternyata nama Gibran selalu unggul diatas.

Para capres merubung Gibran. Termasuk Puan, Prabowo, Ganjar, dan Anies, mendatangi Gibran untuk menjadi pendamping mereka. Dan ini yang paling sering dilupakan orang.

Jokowi sama sekali tidak menghendaki Gibran menjadi wapres.

Prabowo juga tidak akan mengikuti capres jika Jokowi tidak merestui.

Jokowi memberikan solusi, agar Ganjar mendampingi Prabowo dengan pembicaraan yang terekam dalam gambar ditengah sawah. Diplomasi sawah. Tapi elit partai nampaknya tidak sreg bila Ganjar cuma jadi RI-2. Tidak ada solusi.

Prabowo meminta Gibran kembali agar menjadi pendamping. Bukan satu kali, dua kali atau tiga kali. Tetapi lima kali.

Dalam bahasa politik yang tak terucap, Prabowo seperti mengatakan kepada Jokowi, mana dukungan anda? Kalau anda memang ingin keberlanjutan, serahkan Gibran untuk mendampingi saya. Jika tidak, saya berhenti disini. Usia mengejar saya, dan saya tidak mau kalah lagi.

Jokowi yang secara psikologis sudah dikucilkan dan disingkirkan oleh partainya tidak punya banyak pilihan

Akhirnya, Gibran mendampingi Prabowo. Prabowo menang hampr 60% suara. Paslon lain kisaran 20%.

Namun PDI-P diposisi paling rendah, hanya 16%.

Gibran dipecat partai. Jokowi dipecat partai. Dan juga Bobby Nasution bersama 27 kader lainnya.

Jejak Jokowi di PDI-P disapu bersih. Seolah-olah PDI-P tidak mau lagi melihat kebelakang prestasi Jokowi bagi partai.

Tapi fakta apa yang paling menyakitkan bagi Megawati?

Elit-elit PDI-P mengatakan dalam formulasi singkat, bahwa tanpa partai PDI-P, Jokowi tidak akan pernah menjadi presiden.

Tapi hal ini terbantahkan dengan fakta yang paling telanjang, jika memang benar pengaruh PDI-P begitu besar terhadap keberhasilan capres, seharusnya Ganjar pasti menang. Nyatanya, Ganjar hanya dapat 16%. Di posisi paling rendah diantara tiga paslon. Lalu mana efek PDI-P?

Justru ketika Efek Jokowi melekat pada Prabowo melalui Gibran, Prabowo menang hampir 60%.

Jadi siapa berhutang budi pada siapa?

Publik membaca, justru PDI-Plah yang selama 19 tahun berhutang pada Jokowi, yang telah membawa partai ini pada ketinggian yang belum pernah tercapai sebelumnya.

Publik juga mengingat bahwa sebenarnya Megawati adalah presiden yang tidak pernah dipilih rakyat.

Megawati menjadi presiden karena Gus Dur, presiden ke-4 dilengserkan ditengah jalan oleh konspirasi penjegalan yang dimotori Amien Rais.

Megawati juga gagal dalam kontestasi capres berikutnya dikalahkan oleh bawahannya SBY, yang mungkin menjadi salah satu faktor keretakan hubungan mereka berdua dalam waktu lama.

Banyak suara kecil yang bicara dalam senyap, susungguhnya bukan Jokowi tidak tahu terima kasih dan pergi begitu saja, tapi justru PDI-P lah yang membuang Jokowi, angsa bertelur emasnya yang telah membawa PDI-P pada kejayaan yang belum pernah dicapai partai itu sebelumnya.

Apakah Megawati punya motif untuk benci dan ikut serta dalam orkestrasi fitnah ijazah pasu Jokowi?

Perlu diingat juga bahwa publik masih sering membaca ambisi yang kuat di PDI-P untuk mengantarkan Puan ke puncak kekuasaan tertinggi negara ini.

Pertimbangkan dengan jernih.***

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *