Oleh: Soleh Sofyan, M.I.Kom
(Praktisi Dakwah & Pengurus Lembaga dakwah PBNU & PWNU DKI Jakarta)
Kitabaru.com, Jakarta – Sering kali dakwah kita pahami sebagai upaya “membenarkan” orang lain. Yang satu merasa sudah di jalan lurus, yang lain dianggap perlu diluruskan. Maka dakwah pun berubah menjadi ruang penilaian: siapa paling benar, siapa paling salah.
Tapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
*”apakah dakwah sudah benar-benar memanusiakan manusia?”*
Tidak sedikit dakwah yang rajin mengutip dalil, tetapi lupa pada kondisi batin manusia yang mendengarnya. Kata-kata benar disampaikan, namun tanpa empati. Hukum ditegaskan, tetapi tanpa kasih. Akibatnya, dakwah terdengar keras bagi telinga, berat bagi hati, dan jauh dari kehidupan nyata.
Mungkin yang perlu kita benahi bukan isi dakwahnya, tetapi orientasinya.
Saya mulai melihat dakwah bukan sekadar upaya menegakkan kebenaran, melainkan proses memanusiakan manusia. Memanusiakan berarti memahami bahwa setiap orang sedang berada pada fase hidup yang berbeda.
Ada yang kuat imannya, ada yang sedang lelah. Ada yang paham agama, ada yang masih bertanya-tanya.
Dakwah yang memanusiakan tidak terburu-buru menghakimi, tetapi sabar menemani.
Dalam dakwah semacam ini, yang dibangun bukan rasa takut semata, melainkan rasa bermakna. Umat tidak hanya diajak tunduk, tetapi diajak mengerti. Tidak hanya disuruh taat, tetapi dipahamkan mengapa ketaatan itu menyelamatkan jiwa.
Dakwah yang memanusiakan juga sadar bahwa manusia bukan hanya makhluk ritual, tetapi makhluk luka. Banyak orang datang ke majelis bukan karena ilmunya kosong, tetapi karena hatinya lelah. Maka dakwah tidak cukup hanya menjelaskan hukum, tetapi perlu menghadirkan harapan, penguatan, dan arah hidup.
Dalam paradigma ini, dai bukan hakim moral. Dai adalah teman seperjalanan. Ia berdiri sedikit di depan bukan untuk merasa lebih tinggi, tetapi agar bisa menuntun. Ia berbicara bukan dari menara gading, tetapi dari pengalaman hidup yang nyata.
Mungkin inilah dakwah yang paling dibutuhkan hari ini. Di tengah dunia yang bising, saling menyalahkan, dan kehilangan empati, dakwah hadir untuk mengembalikan manusia pada martabatnya. Karena manusia yang dimanusiakan akan lebih mudah menerima kebenaran, dan hati yang dipeluk dengan kasih akan lebih siap tunduk kepada Allah.
Dan barangkali, dakwah yang paling efektif bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dalam sentuhannya.***



















