JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian investor di tengah meningkatnya minat terhadap saham berfundamental kuat dan memiliki rekam jejak pembagian dividen. Pada harga saham sekitar Rp515 per saham, BJTM menawarkan kombinasi yang menarik antara potensi pendapatan dividen, kemampuan menghasilkan laba, serta valuasi yang relatif rendah terhadap nilai bukunya.
Salah satu daya tarik utama BJTM adalah konsistensi pembagian dividen. Berdasarkan data yang terlihat, BJTM membagikan dividen Rp56,62 per saham untuk tahun buku terbaru. Sebelumnya, dividen yang dibagikan mencapai Rp54,71 per saham pada 2025 dan Rp54,39 per saham pada 2024. Dengan harga Rp515, dividen Rp56,62 tersebut secara historis setara dengan yield sekitar 11 persen, sebuah angka yang cukup menarik bagi investor yang membangun portofolio untuk menghasilkan pendapatan dari investasi.
Namun, daya tarik BJTM tidak berhenti pada dividen. Kinerja laba menjadi fondasi penting yang perlu diperhatikan investor. Data kuartal I 2026 menunjukkan BJTM mencatat laba sekitar Rp661,2 miliar, dibandingkan sekitar Rp468,5 miliar pada kuartal IV 2025. Meskipun perbandingan antar-kuartal harus dibaca dengan mempertimbangkan karakter bisnis perbankan dan faktor musiman, angka tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang cukup kuat.
Dari sisi neraca, skala bisnis BJTM juga tergolong besar. Total aset pada kuartal I 2026 berada di sekitar Rp164,1 triliun, sementara ekuitas mencapai sekitar Rp22,4 triliun. Posisi tersebut memberikan gambaran mengenai basis usaha dan permodalan bank. Investor tetap perlu melengkapinya dengan melihat indikator khusus perbankan seperti kualitas kredit, NPL, NIM, CAR, ROE, pertumbuhan kredit, serta kecukupan pencadangan.
Arus kas juga memberikan gambaran menarik. Pada kuartal I 2026, arus kas dari aktivitas operasi tercatat sekitar Rp2,5 triliun, sementara kas dan setara kas pada akhir periode berada di kisaran Rp20,1 triliun. Untuk sektor perbankan, angka arus kas memang tidak dapat dibaca dengan cara yang sama seperti perusahaan manufaktur atau perusahaan non-keuangan, tetapi data tersebut tetap menjadi bagian dari gambaran likuiditas dan aktivitas keuangan bank secara keseluruhan.
Yang membuat BJTM semakin menarik adalah perspektif valuasinya. Dengan ekuitas sekitar Rp22,4 triliun dan jumlah saham beredar sekitar 30,5 miliar saham, nilai buku indikatif berada di kisaran Rp734 per saham. Jika dibandingkan dengan harga pasar Rp515, maka secara sederhana BJTM berada di sekitar 0,70 kali PBV. Artinya, harga pasar berada di bawah nilai buku indikatifnya. Meski demikian, PBV rendah tidak otomatis berarti saham murah, karena kualitas aset dan kemampuan bank menghasilkan return atas ekuitas tetap menjadi faktor penentu.
Bagi investor jangka panjang, kondisi tersebut membuka ruang untuk melihat BJTM bukan sekadar sebagai saham pembagi dividen, tetapi sebagai perusahaan yang memiliki kombinasi antara pendapatan, laba, aset, ekuitas, dan valuasi. Investor dapat mempertimbangkan strategi akumulasi secara bertahap dengan tetap memperhatikan harga masuk, perkembangan laporan keuangan, kondisi industri perbankan, serta kebijakan dividen pada tahun-tahun berikutnya.
Pada saat yang sama, risiko tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari investasi saham. Kinerja BJTM dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, kualitas kredit, regulasi perbankan, serta dinamika industri keuangan. Karena itu, dividend yield yang tinggi tidak seharusnya membuat investor mengabaikan analisis risiko dan diversifikasi.
Bagi investor yang mencari kombinasi dividen dan value investing, BJTM layak masuk dalam daftar emiten yang diperhatikan. Dividen sekitar Rp56,62 per saham, laba Rp661,2 miliar pada kuartal I 2026, ekuitas sekitar Rp22,4 triliun, serta PBV indikatif sekitar 0,70 kali memberikan sejumlah alasan fundamental untuk mengkajinya lebih dalam.
Pada akhirnya, daya tarik BJTM bukan hanya terletak pada berapa besar dividen yang dibagikan, tetapi pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah bank mampu terus menghasilkan laba, menjaga kualitas aset, memperkuat permodalan, dan memberikan nilai kepada pemegang saham. Jika kemampuan tersebut dapat dipertahankan, BJTM berpotensi menjadi salah satu pilihan menarik bagi investor yang membangun portofolio jangka panjang dengan orientasi pendapatan dividen sekaligus pertumbuhan nilai aset.













