KEANGKUHAN SEBAGAI SIKAP YANG TERCELA

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Telah ditetapkan dalam sunnatullah bahwa manusia selain memiliki sifat-sifat yang terpuji, juga memiliki sifat-sifat yang tercela seperti khilaf, lupa, angkuh, dan sebagainya. Betapapun tingginya ilmu yang dimiliki seseorang, sewaktu-waktu ia akan terjerembab ke dalam khilaf dan lupa. Karena itu, manusia sebagai makhluk yang memiliki kelemahan, harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah s.w.t., dengan memohon ampunan dan rahmat-Nya. Selain itu, harus menyadari juga terhadap kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan, baik yang disadari, maupun yang tidak disadari.

Apabila ada seseorang yang berbuat kekhilafan atau kesalahan, kemudian dia tidak mau memohon rahmat Allah dan ampunan-Nya, bahkan ia menyombongkan diri atas ibadah dan amalnya. Orang seperti itu tergolong sebagai orang yang kurang mempunyai pengharapan terhadap karunia Allah. Orang seperti itu hampir terjerembab dalam sikap putus asa, padahal disebutkan dalam al-Qur’an bahwa tidak ada orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir. (QS. Yusuf, 12:87).

Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang makhluk yang bersikap sombong, sehingga mereka menjadi makhluk yang tercela dan terkutuk. Sikap itu antara lain difigurkan oleh: (1) Iblis, ia menolak untuk mentaati perintah Allah agar bersujud menghormati Adami a.s.. Ketika dia ditanya mengapa enggan bersujud dan mentaati perintah Allah? Iblis menjawab: Aku lebih baik dari Adam, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.

Contoh ke (2) adalah Abu Lahab, paman Nabi sendiri yang menolak kebenaran al-Qur’an, karena bersikap angkuh dan menolak petunjuk Nabi s.a.w.. Selajutnya yang ke (3) adalah kisah tentang Fir’aun yang menjadi raja yang kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan. (4) Kisah tentang Qarun, konglomerat yang paling kaya di zaman Fir’aun. Ia juga menolak kebenaran yang diajarkan oleh Nabi Musa, meskipun ia keturunan Bani Israel.

Contoh berikutnya (5) adalah Haman, seorang ilmuwan yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu, yang hidup pada zaman Nabi Musa a.s.. Dari berbagai kenyataan ini, dapat dipahami bahwa orang-orang yang bersifat angkuh dan membanggakan diri adalah orang-orang yang tidak mengharap rahmat Allah s.w.t.. Sikap seperti itu sesungguhnya telah mencelakakan diri sendiri, baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.

Mengenai kriteria orang-orang yang merugi dan tercampakkan dalam kehinaan, menurut beberapa uraian dari para ulama, antara lain: (1) semakin bertambah ilmunya, semakin sombong dan membanggakan diri. (2) semakin bertambah amal shalehnya, semakin tinggi kebanggaan terhadap dirinya sendiri, merendahkan orang lain, dan sering menghina mereka. (3) semakin bertambah usianya, ia bersikap semakin rakus dan semakin serakah pada kemewahan dunia. (4) semakin kaya hartanya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya. (5) semakin banyak memiliki kedudukan dan pangkat, semakin sering menzalimi rakyatnya.

Sebagai manusia yang ingin memperoleh kesuksesan maksimal, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang, hendaklah dengan segera membuang jauh-jauh keangkuhan dan kesombongan. Sebaliknya, harus bersikap rendah hati, merasa banyak memiliki kekurangan, dan bersikap respek terhadap sesamanya, serta senantiasa bersyukur dan menyerahkan diri kepada Allah s.w.t..