BEKASI — Ketegangan yang sempat mewarnai kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jatibaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, akhirnya berujung pada perdamaian. Namun, di balik penyelesaian tersebut, ada satu pesan politik yang begitu kuat: ketika emosi dibalas dengan kebesaran hati, persoalan yang berpotensi menjadi konflik dapat berakhir dengan perdamaian.
Tim sukses Sadar Darmadi M Reza Alfariski akhirnya mengakui kesalahan atas tindakan dan ucapan yang dinilai telah melewati batas kepatutan dalam sebuah kontestasi demokrasi. Pengakuan tersebut disertai permintaan maaf kepada Timses H. Apudin Asnawi, calon Kepala Desa Jatibaru nomor urut 1, beserta seluruh simpatisan dan pendukungnya.
Dalam kesepakatan bersama yang dibuat pada Minggu (13/9/2026), pihak pertama menyatakan mengakui kesalahannya dan menerangkan bahwa ucapan yang menjadi persoalan dilakukan secara spontan tanpa ada pihak yang menyuruh.
Tak berhenti pada pengakuan, pihak Timses Sadar Darmadi juga menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang telah menimbulkan kegaduhan dan ketidaknyamanan di tengah masyarakat.
Pihak tersebut sekaligus berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya kepada H. Apudin Asnawi maupun pihak lainnya, di mana pun dan kapan pun. Bahkan, apabila perbuatan serupa kembali terjadi, yang bersangkutan menyatakan siap menerima konsekuensi secara moral maupun hukum.
Di titik inilah sikap Timses H. Apudin Asnawi menjadi sorotan. Alih-alih memperpanjang persoalan, membalas dengan emosi, atau menjadikan insiden tersebut sebagai bahan untuk memperuncing pertarungan politik, pihak H. Apudin justru memilih menerima permintaan maaf dengan tulus dan lapang dada.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa dalam sebuah pertarungan politik, kemenangan tidak selalu ditunjukkan dengan suara paling keras. Terkadang, kemenangan moral justru terlihat ketika seseorang mampu menahan diri, menerima permintaan maaf, dan memilih mengakhiri persoalan demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
H. Apudin Asnawi dan timnya memilih memaafkan. Sebuah pilihan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna besar di tengah panasnya persaingan Pilkades Jatibaru.
Perdamaian tersebut disaksikan langsung oleh Ketua Panitia Pilkades Desa Jatibaru Alamsyah, unsur Bhabinkamtibmas Polri, Babinsa TNI AD, Ketua BPD Desa Jatibaru, serta pihak-pihak terkait lainnya.
Kedua belah pihak kemudian sepakat untuk saling menjaga keamanan dan menghentikan berbagai tindakan yang dapat memicu kegaduhan selama seluruh tahapan Pilkades Jatibaru tahun 2026.
Pesan yang muncul dari penyelesaian ini pun jelas: Pilkades adalah kompetisi untuk mencari pemimpin, bukan alasan untuk menciptakan permusuhan.
Tim pendukung boleh berbeda. Nomor pilihan boleh berbeda. Strategi politik pun boleh berbeda. Tetapi ketika kepentingan masyarakat ditempatkan di atas ego kelompok, perdamaian masih selalu memiliki ruang.
Sikap Timses H. Apudin Asnawi yang menerima permintaan maaf juga menunjukkan bahwa kontestasi politik tidak harus selalu berakhir dengan saling membenci. Justru kedewasaan para pendukung diuji ketika mereka menghadapi provokasi, tekanan, dan persoalan yang berpotensi memperbesar konflik.
Kini, setelah permintaan maaf diterima, seluruh pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kesepakatan tersebut. Tidak boleh ada lagi tindakan yang menghidupkan kembali persoalan yang telah diselesaikan.
Masyarakat Jatibaru tentu berharap momentum ini menjadi titik balik. Persaingan harus kembali diarahkan pada visi, program, kapasitas, rekam jejak, dan gagasan tentang masa depan Jatibaru, bukan pada saling menjatuhkan.
Sebab, calon kepala desa boleh berganti, tim sukses boleh berganti, dan hasil Pilkades pada akhirnya akan menentukan siapa yang dipercaya masyarakat. Tetapi setelah pesta demokrasi selesai, seluruh warga tetap harus hidup berdampingan sebagai satu masyarakat Jatibaru.
Dan hari ini, Timses H. Apudin Asnawi telah menunjukkan satu sikap yang tidak kalah penting dari sekadar memenangkan perdebatan: mampu memaafkan ketika memiliki alasan untuk marah.
Itulah kedewasaan dalam politik. Menang tidak harus merendahkan, dan memaafkan bukan berarti kalah.

