Pergulatan Batin Arsitek Nasrani yang Rancang Masjid Istiqlal

Jakarta141 Views
banner 468x60

Kitabaru.com, Jakarta – Masjid Istiqlal, salah satu bangunan monumental Indonesia yang menjadi bagian dari Proyek Mercusuar Presiden Soekarno, dirancang oleh seorang Nasrani, Friedrich Silaban.

Sebagai seorang Kristiani, Silaban mengalami pergulatan batin ketika merancang bangunan yang dijadikan tempat ibadah umat Islam tersebut, seperti dilansir Historia.id. Selama membuat sketsa masjid, ia selalu berdoa.

banner 336x280

“Tuhan, kalau di mata-Mu saya salah merancang masjid, maka jatuhkanlah saya, buatlah saya sakit supaya gagal. Tapi jika di mata-Mu saya benar, maka menangkanlah saya,” ujar Poltak Silaban, putra ketiga Silaban, menirukan doa ayahnya.

Tuhan ternyata mengabulkan doa Silaban.

Karyanya yang bertajuk “Ketuhanan” dipilih oleh Sukarno, yang memimpin sayembara guna mendapat rancangan masjid terbaik sekira tahun 1955. Hanya saja, kemenangan Silaban sempat mengundang perdebatan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

“Memang sempat ada polemik mengenai seyembara, namun tidak lama. Ya, karena agama papi yang Kristen kok bisa merancang masjid,” ujar Poltak.

Kesempatan emas dalam karier arsitek

Setiadi Sopandi, penulis buku biografi Friedrich Silaban mengatakan, merancang masjid nasional di pertengahan dekade 1950 merupakan kesempatan emas dalam karier arsitek. Menurutnya, sayembara masjid nasional itu tidak meributkan asal-usul atau agama si perancangnya.

“Bahkan, pemenang juara ketiga sayembara Masjid Istiqlal dimenangkan oleh Han Groenewegen, arsitek asal Belanda yang beragama Kristen,” kata Setiadi.

Buku Rumah Silaban terbitan mAAN Indonesia Publishing mengungkapkan, Silaban punya kecenderungan untuk menciptakan skema desain arsitektur modern dan monumental.

Tendensi ini sejalan dengan visi Soekarno dalam membangun Indonesia yang baru merdeka. Ini kemudian mengangkat karir Silaban menuju puncak kejayaan di tahun 1957-1964.

Ia merancang banyak bangunan penting dan monumental di Indonesia, seperti Bank Indonesia di Jakarta dan Surabaya, Hotel Banteng (kini Hotel Borobudur), dan Istiqlal.

“Silaban mampu mengejawantahkan keinginan Soekarno dalam hal rancang bangun. Selain itu, dia dikenal cepat dalam membuat konsep bangunan, sehingga Soekarno merasa cocok dan senang,” ujar Setiadi kepada Historia.id 14 Juni 2017 lalu.

Biografi singkat Silaban

Pria kelahiran 16 Desember 1912 ini merupakan anak dari seorang pendeta desa di Bonandolok, Tapanuli, Sumatera Utara.

Ketertarikannya pada bangunan bermula saat ia menempuh pendidikan di Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.

Di sana, Silaban mempelajari ilmu bangunan (bouwkunde) dan lulus pada tahun 1931. Sayangnya, Silaban tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas karena masalah finansial.

“Tapi di luar itu semua, beliau telah mendedikasikan dan mengabdikan hidupnya hingga mencapai kemampuan menghasilkan berbagai desain arsitektur Indonesia, melalui pembelajaran pribadi yang tiada henti,” tulis buku Rumah Silaban. (Historia.id/ Aryono).

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *