Kitabaru.com, Jakarta – Indonesia menghadapi krisis pengelolaan sampah yang melampaui persoalan teknologi dan infrastruktur fisik. Akar persoalannya terletak pada kegagalan fundamental dalam desain sistem industri. Dari perspektif Industrial and Systems Engineering, krisis ini bersumber pada empat kegagalan kritis.
Pertama, penerapan model logistik _hub-and-spoke_—yang sejatinya dirancang untuk material bernilai tinggi—dipaksakan pada sampah basah dengan kadar air mencapai 60 persen, sehingga menciptakan inefisiensi transportasi hingga 60–75 persen dari volume yang sebenarnya dapat direduksi di sumber.
Kedua, dominasi ekonomi linear memutus rantai pasok material akibat ketiadaan mekanisme deposit-refund sebagai pengendali aliran balik material bernilai.
Ketiga, sistem pengangkutan masih mengandalkan optimasi rute statis yang boros energi, padahal penerapan algoritma berbasis AI berpotensi menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 25 persen.
Keempat, sistem formal secara sistemik mengabaikan peran 3,7 juta pemulung yang justru menopang efisiensi daur ulang PET nasional hingga 71 persen.
Esai ini mengungkap ironi bagaimana Indonesia mengadopsi arsitektur logistik yang efektif untuk layanan seperti Pos Indonesia atau penerbangan komersial—di mana rasio nilai terhadap berat tinggi dan konsolidasi memberikan keuntungan ekonomi—namun memaksakan pendekatan yang sama pada material dengan karakteristik sebaliknya: nilai rendah, berat tinggi, dan berpotensi diproses di sumber.
Melalui lensa operations research, supply chain management, dan network design theory, tulisan ini menegaskan bahwa solusi terletak pada redesain arsitektur sistem: dari centralized hub-and-spoke menuju distributed processing network, dari linear supply chain menuju circular value network, dari static routing menuju dynamic optimization, serta dari eksklusi sektor informal menuju integrasi formal.
Dengan memanfaatkan keunggulan komparatif Indonesia—iklim tropis yang ideal untuk pengomposan, basis sektor informal yang masif, dan struktur geografis kepulauan—redesain ini berpotensi menurunkan biaya transportasi hingga 40 persen, meningkatkan _material recovery_ rate hingga 60 persen, serta mengintegrasikan jutaan pekerja informal ke dalam sistem formal dengan perlindungan sosial yang lebih layak.
Ketika Hub-and-Spoke Bertemu Sampah Basah
Coba, bayangkan sebentar: Anda seorang industrial engineer yang ditugaskan mengaudit sistem logistik sampah sebuah kabupaten. Anda menemukan truk-truk compactor mengangkut sampah dari 147 desa (spokes) ke satu TPA kota (hub) berjarak rata-rata 45 kilometer—membakar ribuan liter solar setiap hari untuk mengangkut material yang 60%-nya adalah air dan bahan organik. Di atas meja, Anda melihat diagram _network topology_ yang familiar: arsitektur _hub-and-spoke_ klasik yang Anda pelajari di kuliah _operations research_.
Model ini brilian untuk Pos Indonesia, JNE, SAPX atau layanan postal lainnya. Sangat efisien untuk penerbangan komersial. Terbukti optimal untuk distribusi paket e-commerce. Tapi untuk sampah basah Indonesia? Ini adalah _textbook example_ dari _misapplication of logistics model_.
Hub-and-spoke model dirancang dengan asumsi fundamental: material yang diangkut memiliki _value-to-weight ratio_ tinggi, sehingga biaya transportasi jauh lebih rendah dibanding nilai ekonomi material tersebut. Paket pos, penumpang pesawat, _high-value cargo_ —semuanya memenuhi asumsi ini.
Sampah organik Indonesia memiliki karakteristik sebaliknya: value mendekati nol (bahkan negatif karena biaya disposal), weight tinggi karena 60% air, dan—ini yang paling krusial—dapat diproses di sumber menjadi kompos dengan nilai ekonomi positif. Mengangkut material seperti ini sejauh puluhan kilometer adalah economic absurdity yang hanya masuk akal jika Anda tidak pernah menghitung total logistics cost secara jujur. Kita mengadopsi arsitektur logistik asing tanpa mempertanyakan kesesuaiannya dengan karakteristik material lokal.
Anatomi Kegagalan: Tiga Kondisi yang Dilanggar
Dalam network design theory, efektivitas hub-and-spoke bergantung pada tiga kondisi kritis:
– Pertama, economies of scale di hub. Pengomposan skala kecil (village-level) justru memiliki capital cost lebih rendah (Rp 50-100 juta per unit vs. Rp 500 juta-1 miliar untuk fasilitas terpusat), operational complexity lebih rendah, dan tidak memerlukan economies of scale untuk break-even.
– Kedua, transportation cost rendah relatif terhadap processing cost. Untuk sampah basah Indonesia, transportasi justru menjadi komponen biaya terbesar—mencapai 60-70% dari total biaya pengelolaan. Dengan jarak rata-rata 45 km, biaya transportasi per ton sampah mencapai Rp 150.000-200.000, sementara biaya pengomposan di sumber hanya Rp 50.000-80.000 per ton.
– Ketiga, material tidak dapat diproses di spoke. Sampah organik menghancurkan asumsi ini—ia tidak hanya dapat diproses di desa, tapi seharusnya diproses di sana: proses biologis alami (aerobic composting) berjalan optimal pada suhu tropis 28-35°C tanpa input energi eksternal, menghasilkan kompos bernilai ekonomi Rp 500-800/kg, dan mereduksi volume 60-75% sehingga tidak perlu diangkut.
Indonesia menerapkan hub-and-spoke pada material yang melanggar ketiga kondisi ini—menciptakan sistem yang secara struktural dirancang untuk boros dan tidak berkelanjutan.
Distributed Processing Network: Arsitektur Alternatif
Solusi bukan menghilangkan hub, melainkan mendesain ulang arsitektur jaringan menjadi _hybrid hierarchical network_ dengan prinsip _process locally_, _consolidate selectively_:
– Tier 1: Village-Level (Distributed Nodes) — Organik 60% diolah menjadi kompos di fasilitas komunal RT/RW, reduksi volume 60-75%, tidak perlu transportasi. Surabaya telah membuktikan dengan 26 rumah kompos, tingkat konversi 75%.
– Tier 2: District-Level (Sub-Hubs) — Plastik, kertas, logam 25% dipilah di MRF untuk dijual ke industri daur ulang. Tangerang memproduksi 116 ton RDF untuk industri semen.
– Tier 3: Regional (Central Hub) — Hanya residu 10-15% yang benar-benar tidak dapat diolah yang diangkut ke TPA saniter. Volume 85-90% lebih kecil, umur TPA diperpanjang 5-10x lipat.
Arsitektur ini mengikuti prinsip _network optimization_: proses material sedekat mungkin dengan sumbernya, konsolidasikan hanya material bernilai tinggi, dan simpan di hub hanya yang benar-benar tidak punya alternatif.
Rantai Pasok Terputus: Open-Loop yang Bunuh Diri
Masalah kedua adalah desain supply chain yang bersifat _take-make-dispose_ —produsen kemasan melepas produk ke pasar, konsumen membuang setelah pakai, dan tidak ada mekanisme kontrol aliran balik material.
Closed-loop supply chain memerlukan tiga komponen kritis yang absen di Indonesia: economic incentive untuk return (tanpa deposit-refund scheme, konsumen tidak punya insentif mengembalikan kemasan), reverse logistics infrastructure (nyaris tidak ada dalam sistem formal), dan producer take-back obligation dengan enforcement yang jelas.
Di negara dengan sistem deposit, _return rate_ botol mencapai 90-98%. Singapura membangun _collection point_ di setiap MRT station dengan deposit 10 sen per kemasan. Indonesia memiliki EPR (PP 81/2012, PERMENLHK 75/2019) dengan target 30% pengurangan pada 2029, tapi tanpa mekanisme deposit yang mengikat secara ekonomi.
Ironisnya, Indonesia memiliki _informal reverse logistics_ paling efisien di dunia—3,7 juta pemulung mengumpulkan 1 juta ton/tahun dengan _recovery rate_ PET 71% tanpa subsidi pemerintah. Yang dibutuhkan bukan menghancurkan sistem ini, melainkan formalisasi dengan deposit-refund sebagai _economic glue_ yang mengikat produsen-konsumen-pemulung dalam _closed-loop network_.
Vehicle Routing Problem yang Terabaikan
_Vehicle Routing Problem_ (VRP) adalah salah satu masalah klasik dalam operations research: bagaimana mendesain rute kendaraan untuk meminimalkan jarak tempuh total, biaya bahan bakar, dan waktu operasi.
Armada pengangkut sampah Indonesia beroperasi seolah VRP tidak pernah ditemukan: jadwal tetap, rute tetap, tanpa adaptasi terhadap kondisi _real-time_. Truk melewati TPS yang kosong sementara TPS lain meluap.
Teknologi solusi sudah tersedia dan terbukti: algoritma _Clarke-Wright Savings_ untuk rute tetap optimal menghasilkan penghematan bahan bakar 13,8% di Samarinda. _Dynamic route optimization_ dengan _real-time data_ dari sensor IoT menghasilkan penghematan 25-35% biaya operasional. Implementasi GIS-based fleet management di Malang meningkatkan efisiensi waktu 40% dan mengurangi biaya 30%.
Dengan 7.000-8.000 ton sampah diangkut setiap hari di Jakarta saja, penghematan 25% setara dengan ratusan juta rupiah per tahun—cukup untuk membiayai sistem VRP berkali-kali lipat.
Aset Produktif yang Diabaikan
Indonesia memiliki _distributed collection network_ dengan 3,7 juta nodes (pemulung) yang beroperasi tanpa koordinasi sentral, tanpa subsidi, namun menghasilkan _recovery rate_ PET 71%—angka yang lebih tinggi dari banyak negara maju dengan sistem formal. Di Jakarta, sektor informal mengurangi volume sampah hingga 30%, menghemat biaya pengangkutan untuk pemerintah.
Namun sistem formal gagal mengintegrasikan aset ini. Pemulung bekerja tanpa perlindungan hukum, tanpa jaminan sosial, dengan penghasilan hanya sepertiga upah minimum regional.
Integrasi yang seharusnya: formalisasi melalui koperasi dengan kontrak pengumpulan resmi, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan dibiayai skema EPR, dan dalam _deposit-refund scheme_ mereka bertindak sebagai _collection agents_ resmi dengan _handling fee_ per unit kemasan. Seperti kearifan _gotong royong_, sistem terbaik adalah yang memanfaatkan kekuatan kolektif yang sudah ada, bukan menciptakan struktur paralel.
Empat Pilar Redesain Sistemik
– Pilar 1: Dari Hub-and-Spoke ke Hierarchical Distributed Network — Three-tier processing: village composting, district MRF, regional disposal. Reduksi volume angkut 60-75%, penghematan transportasi 40%.
– Pilar 2: Dari Open-Loop ke Closed-Loop Supply Chain — Deposit-refund Rp 500-1.000 per kemasan, collection point terintegrasi sektor informal, target return rate 90% dalam 5 tahun.
– Pilar 3: Dari Static Routing ke Dynamic Optimization — VRP berbasis AI dengan real-time data, penghematan bahan bakar 25%, peningkatan fleet utilization 40%.
– Pilar 4: Dari Eksklusi ke Integrasi Sektor Informal — Formalisasi 3,7 juta pemulung, koperasi legal, BPJS, integrasi ke EPR. Peningkatan recovery rate hingga 60%.
Dari Gengsi ke Kearifan Desain
Kita telah terlalu lama terpesona oleh model sentralisasi megah—TPA raksasa dengan teknologi impor, armada truk modern, dan command center yang terlihat futuristik. Ini adalah _cargo cult engineering_ —meniru bentuk luar tanpa memahami prinsip fundamental.
_Hub-and-spoke_ brilian untuk Pos Indonesia, JNE, SAPX karena paket memiliki _value-to-weight ratio_ tinggi. Tidak untuk sampah basah dengan 60% air dan nilai ekonomi negatif. Sementara itu, realitas berteriak: Sarimukti 1.298% kapasitas, Bantar Gebang kolaps 2031, lindi meracuni 13 sungai. Di sisi lain, solusi sederhana terbukti efektif: pengomposan komunal yang mereduksi volume di sumber, sektor informal yang mengumpulkan jutaan ton tanpa anggaran negara, dan algoritma VRP yang menghemat miliaran rupiah.
Pertanyaannya sekarang: sanggupkah kita keluar dari hipnosis hub-and-spoke dan kembali pada prinsip _systems engineering_ dasar— _design for context, optimize for efficiency, integrate existing assets?_ Ataukah kita akan terus membangun TPA megah yang kolaps, mengangkut air dengan truk diesel, dan mengabaikan 3,7 juta pekerja produktif yang telah menciptakan _distributed collection network_ tanpa sepeser pun anggaran negara?
Jawaban tidak akan ditemukan dalam presentasi vendor teknologi, melainkan dalam keberanian untuk menghitung jujur dan mendesain ulang berdasarkan data, bukan gengsi. Sudah waktunya kita curiga pada network architecture yang kita warisi dari era kolonial, dan berani membangun distributed system yang lebih cocok untuk Indonesia abad ke-21—bukan karena terdengar canggih, tapi karena mathematics of optimization berkata demikian.***













