Site icon KITABARU

Menelusuri Jejak Peradaban: Diskusi Publik CS 08 Soroti Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi

Enam narasumber pria duduk berjejer di atas panggung dalam acara Diskusi Publik Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi dengan latar belakang layar LED besar.

Suasana diskusi publik "Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi" yang diselenggarakan oleh Divisi Seni Budaya CS 08 bersama TISI dan DISPUSIP di Gedung PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Tampak para narasumber, termasuk Haris Rusly Moti dan Prof. Agus Aris Munandar, tengah memaparkan materi[span_1](start_span)[span_1](end_span). (Foto: Istimewa)

JAKARTA — Divisi Seni Budaya Cakra Satya 08 (CS 08), TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia), DISPUSIP, dan PDS HB Jassin menggelar diskusi publik bertajuk “Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi: Menelusuri Nilai Estetik dan Kreativitas dalam Jejak Peradaban Masa Lalu”. Acara ini merupakan produksi ketiga dari Divisi Seni Budaya Cakra Satya 08, menyusul peluncuran buku 81 Penyair dan Astro Sani sebelumnya.

Acara berlangsung di Gedung PDS HB Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Rabu (4/11/2026). Sekitar 75 orang dari kalangan seniman/budayawan, aktivis organisasi masyarakat, akademisi, dan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas hadir mengikuti diskusi yang terbuka untuk publik ini.

Suasana Diskusi Publik “Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi” di Taman Ismail Marzuki.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pegiat arkeologi terkemuka, di antaranya Prof. Dr. Agus Aris Munandar, SS, M.Hum (Guru Besar Arkeologi UI), Haris Rusly Moti dan Jhohannes Marbun, MA (keduanya adalah aktivis yang memiliki latar belakang pengetahuan ilmu arkeologi) serta Octavianus Masheka (penyair dan deklamator). Asy’ari Mochtar, SE, dan Setiyo Wibowo bertindak sebagai moderator serta Swary Utami Dewi menjadi MC (Master of Ceremony). Acara ini juga diawali dengan pembacaan puisi oleh Jose Rizal Manua, Imam Ma’arif, dan Boyke Sulaiman.

Dalam pengantarnya, Ketua Divisi Seni Budaya CS 08 Octavianus menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali kesadaran publik terhadap pentingnya arkeologi yang kerap kali luput dari perhatian masyarakat.

Arkeologi Sebagai Akar Sejarah Kehidupan Manusia

“Sebagai cabang ilmu yang mempelajari sejarah kehidupan manusia beserta alamnya, arkeologi sering kali dipandang sebelah mata atau kurang diminati oleh masyarakat luas,” ujar Octavianus yang biasa disapa Bang Octa. Padahal, jejak-jejak peninggalan masa lalu tersebar di berbagai tempat dan memuat nilai estetika serta kreativitas yang tinggi.

“Kalau tidak ada masa lalu, tidak ada masa kini,” ujar Bang Octa meminjam kata-kata yang disampaikan MC. Perkataan tersebut menekankan bahwa masa lalu adalah fondasi yang membentuk realitas kehidupan saat ini dan masa depan.

Menurut Bang Octa, arkeologi bukan sekadar benda mati, melainkan sebuah mahakarya seni dan sejarah peradaban yang harus dikenali dan dihargai oleh generasi masa kini.

Bang Octa berharap melalui diskusi terbuka dan gratis ini, CS 08 dapat terus merajut kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengampanyekan pentingnya pelestarian dan apresiasi terhadap seni serta benda-benda bersejarah peninggalan leluhur kita.

Mahakarya Seni di Balik Benda-benda Arkeologi

Benda-benda peninggalan masa lalu sering kali hanya dipandang secara kaku sebagai bukti sejarah atau fosil semata. Padahal, di balik tumpukan batu candi, arca perunggu, hingga lukisan dinding gua, tersimpan mahakarya seni dan ekspresi spiritualitas peradaban masa lalu yang patut dihidupkan kembali ke tengah masyarakat modern.

“Selama ini, disiplin ilmu arkeologi kerap memperlakukan artefak dengan pendekatan yang terkesan kaku, seperti hanya berfokus pada urusan penanggalan, klasifikasi tipologi batu, dan latar belakang pengetahuan dibaliknya,” tandas Jhohannes Marbun (Joe). Dimensi penting yang sering terabaikan adalah nilai estetika, daya kreativitas, dan proses penciptaan di balik benda-benda tersebut.

Bagi Joe, kekayaan kreativitas manusia Nusantara sejatinya memiliki rekam jejak yang sangat panjang. Riset terbaru pada lukisan dinding gua pada situs Metanduno (atau Liang Metanduno) adalah situs gua purbakala dan arkeologi di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang terkenal karena menyimpan seni cadas (lukisan gua) tertua di dunia diperkirakan usia minimum 67.800 tahun lalu.

Karya-karya prasejarah serupa juga ditemukan tersebar di kawasan Maros-Pangkep, Papua hingga Kalimantan Timur. “Fakta ini menunjukkan bahwa daya kreasi bangsa di Nusantara jauh lebih tua dibandingkan peradaban banyak bangsa lain di dunia,” tegasnya.

Namun, terdapat kesenjangan dalam mengomunikasikan kekayaan masa lalu ini kepada publik. Laporan hasil riset dan jurnal arkeologi umumnya memiliki bahasa yang kaku dan hanya diakses oleh kalangan akademisi yang terbatas. Di sisi lain, para seniman sering kali mampu menyelenggarakan acara yang menarik perhatian massa secara luas, meski terkadang ada juga karya mereka kurang berpijak pada fondasi penelitian yang mendalam.

Joe menilai kita butuh jembatan sinergi yang saling melengkapi antara dunia arkeologi dan dunia seni. Arkeolog dapat menyediakan data yang faktual dan objektif, sementara para seniman dapat menerjemahkan data analitis yang kaku tersebut menjadi ekspresi yang lebih hidup, seperti karya rupa visual maupun pertunjukan puitis yang mudah diakses dan dinikmati oleh publik luas. Sebaliknya, seniman juga membutuhkan pengetahuan historis dan filosofis dari arkeologi agar karya yang dihasilkan tidak sekadar meniru bentuk luar artefak, melainkan memiliki kedalaman makna.

Selain seniman, arkeologi juga tidak bisa berdiri sendiri dan sangat membutuhkan dukungan ilmu bantu lainnya, seperti paleografi dan epigrafi, untuk menerjemahkan aksara, prasasti, hingga simbol-simbol kuno yang tidak diwujudkan dalam bentuk huruf.

Menurut Joe, kolaborasi lintas disiplin ini sejalan dengan payung hukum pelestarian kebudayaan di Indonesia, yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dengan menyatukan sudut pandang saintifik-rasional dari arkeologi dan sudut pandang intuitif-estetis dari dunia seni, kampanye pelindungan warisan budaya diyakini akan memiliki daya pikat emosional yang jauh lebih kuat. terlebih pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kebudayaan memiliki arti penting dalam pembangunan nasional dan pertama kalinya menjadikan bidang kebudayaan sebagai kementerian tersendiri, yang saat ini Prof (Hon) Dr. Fadli Zon sebagai menterinya.

“Menelusuri keindahan di balik benda arkeologi pada akhirnya bukanlah sekadar ajang nostalgia sejarah. Langkah ini merupakan fondasi esensial untuk membangun peradaban masa depan, sekaligus upaya merawat ketangguhan spirit, keharmonisan, dan daya cipta intelektual yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa,” pungkasnya.

Ibarat Orang Amnesia, Bangsa yang Lupa Sejarah Akan Kehilangan Jati Diri

Diskusi ini juga menyoroti betapa krusialnya pemahaman sejarah bagi pembentukan jati diri dan peradaban sebuah bangsa. Acara ini mengajak publik untuk tidak memandang benda arkeologi sekadar sebagai barang mati, melainkan sebagai alat untuk merekonstruksi jejak kehidupan, nilai estetik, dan struktur sosial masa lalu yang membentuk manusia Indonesia hari ini.

Dalam diskusi yang berlangsung santai namun sarat akan refleksi intelektual tersebut, salah satu pembicara, Haris Rusly Moti, memberikan analogi yang tajam mengenai pentingnya sejarah. Ia menganalogikan hilangnya kesadaran sejarah sebuah bangsa dengan penyakit amnesia yang menimpa seseorang.

Ia menceritakan sebuah kisah tentang seorang istri yang mengalami kecelakaan hingga menderita hilang ingatan (amnesia). Akibat kejadian itu, sang istri tidak hanya melupakan suami dan orang tuanya, tetapi juga lupa akan alamat rumahnya sendiri. Yang paling fatal, karakter asli perempuan tersebut ikut menghilang dan kembali menjadi “nol”.

Analogi ini digunakan untuk menegaskan bahwa sebuah bangsa yang melupakan sejarahnya akan bernasib sama: kehilangan karakter, lupa akan asal-usulnya, dan kehilangan arah tujuannya. Oleh karena itu, Moti kembali mengingatkan pesan monumental Presiden Soekarno, yakni “Jasmerah” atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Di sinilah ilmu arkeologi dan sejarah mengambil peran vital. Ilmu sejarah dan arkeologi berupaya merekonstruksi kehidupan lampau melalui benda-benda atau artefak peninggalan dari berbagai periode peradaban—mulai dari prasejarah, masa Hindu-Buddha, masuknya Islam, hingga era kolonial. “Proses panjang dan sintesis dari berbagai era inilah yang pada akhirnya melahirkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti Pancasila,” tutur Moti.

Bagi Moti, melalui peninggalan arkeologi dan seni, kita dapat menilai seberapa beradab sebuah bangsa di masa lalu. Seni, budaya, tata krama, dan bahasa adalah cerminan langsung dari tingkat peradaban. “Tidak mungkin sebuah bangsa yang tidak beradab mampu menghasilkan warisan seni atau mahakarya yang bernilai tinggi,” tegasnya.

Lebih jauh, pemahaman historis ini memberikan ketajaman analisis dalam melihat situasi sosial, politik, dan ekonomi di masa kini. Segala dinamika atau fenomena yang terjadi saat ini tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. “Dengan sejarah, masyarakat bisa melacak “ujung pangkal” atau rekam jejak dari setiap peristiwa, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi,” pungkas Moti.

Diskusi ini pada akhirnya menjadi pengingat bagi publik: mempelajari benda arkeologi dan sejarah bukanlah langkah mundur ke belakang, melainkan sebuah cara agar bangsa ini tetap memiliki pijakan. Dengan tidak menjadi bangsa yang “amnesia”, kita dapat melangkah ke depan sebagai bangsa yang lebih beradab dan berkarakter.

Dari Konsep ‘Nama-Rupa’ hingga Enam Syarat Keindahan Masa Klasik Nusantara

Benda-benda peninggalan masa lalu sering kali hanya dilihat sebagai batu usang atau reruntuhan yang tak bernyawa. Namun, di balik wujudnya yang kerap terpotong atau tak lagi utuh, peninggalan arkeologi menyimpan mahakarya seni, nilai estetik, dan kreativitas tingkat tinggi dari peradaban masa silam.

Prof. Agus Aris Munandar, seorang akademisi dan arkeolog yang mendalami masa Hindu-Buddha (zaman Klasik), menjelaskan bahwa kajian arkeologi sejarah memiliki pendekatan yang unik dibandingkan arkeologi prasejarah. Dalam arkeologi sejarah, peneliti mempelajari masa lalu melalui peninggalan benda (kebudayaan material) yang mendapat dukungan dari sumber tertulis, seperti naskah, prasasti, dan filologi.

Pada masa Klasik Indonesia yang berlangsung antara abad ke-8 hingga ke-15 Masehi, masyarakat telah mencapai apa yang disebut sebagai tahapan ontologis. Pada fase ini, manusia sudah mampu menarik diri dari objek sekitarnya dan mengidentifikasi fenomena alam. Kekuatan alam seperti angin, api, dan air dimaknai secara budaya dan dipersonifikasikan menjadi wujud dewa-dewa.

Sinkronisasi Nama dan Rupa

Menurut Guru Besar UI ini, dalam mengkaji artefak masa Hindu-Buddha, para arkeolog harus memahami konsep nama-rupa. Konsep ini membagi peninggalan masa lalu ke dalam dua elemen yang saling terikat:

“Antara benda dan konsep ini harus sinkron. Kalau tidak sinkron, akhirnya tidak bisa kita jawab,” jelas Agus. Sebagai contoh, arca Hari Hara dari zaman Majapahit yang kini disimpan di Museum Nasional. Secara rupa, arca tersebut adalah perwujudan dewa gabungan Siwa dan Wisnu, namun secara nama, arca tersebut menyimpan konsep perwujudan Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit.

Sad Angga: Enam Patokan Keindahan Masa Klasik

Selain itu, Prof. Munandar mengatakan: “Penciptaan karya seni pada masa Hindu-Buddha tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan tunduk pada patokan estetika ketat yang dikenal sebagai Sad Angga (enam keindahan).” Para seniman pemahat batu (silpin dan rupakara) pada masa itu harus memenuhi enam kriteria berikut dalam setiap karyanya:

  1. Rupabheda: Kemampuan membedakan bentuk secara tepat, seperti membedakan penggambaran arca laki-laki dan perempuan, atau relief gajah dan babi hutan.
  2. Sadrsyam: Kesesuaian penggambaran dengan ide yang terkandung. Jika idenya adalah gajah yang kuat, maka ia harus digambarkan besar dan gemuk.
  3. Pramanam: Kesesuaian proporsi dan ketepatan dalam ukuran.
  4. Bhawa: Kemampuan karya seni memancarkan suasana dan perasaan, seperti sedih, gembira, marah, atau ketakutan. Contoh terbaiknya terlihat pada relief yang menggambarkan kesedihan Sita saat diculik Rahwana, atau kemarahan Hanuman.
  5. Varnikabhangga: Penggunaan warna yang tepat. Meskipun saat ini artefak batu di Indonesia umumnya terlihat polos, di masa lalu kemungkinan besar benda-benda ini memiliki warna, layaknya kuil-kuil di India.
  6. Lawanya: Karya tersebut mutlak harus mengandung nilai keindahan saat dilihat.

Sang profesor juga menunjukkan contoh bukti kehebatan penerapan Sad Angga ini yang sangat terlihat pada relief Candi Borobudur. Penggambaran di Borobudur sangat naturalis; gestur orang duduk bersila, berbincang, hingga ibu yang bersedih memegang dagu dipahat dengan sangat hidup dan realistis.

Meskipun bernilai seni tinggi, seni pada masa Hindu-Buddha adalah “kesenian terikat”. Karya-karya indah ini diciptakan semata-mata untuk keperluan dan pengabdian keagamaan, bukan untuk mencari nafkah atau sebagai ekspresi bebas seniman individualistis seperti di era modern.

“Melalui lensa arkeologi ini, peninggalan masa lalu terbukti bukan sekadar tumpukan batu, melainkan representasi visual dari puncak pemikiran, spiritualitas, dan kreativitas leluhur Nusantara,” tutup Prof. Munandar.

Narahubung:
Humas CS 08 – Boy Tonggor Siahaan (081907344548)

Exit mobile version