Mencari “Jenderal” Baru di Lantai Bursa

Nasional18 Views
banner 468x60

Laporan Tim Ekonomi Makro & Pasar Modal

Kitabaru.com, Jakarta – Di tengah badai krisis kepercayaan dan volatilitas pasar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa butuh mitra taktis. Bursa calon Dirut BEI memanas: dari teknokrat “berdarah dingin”, bankir global, hingga politisi yang menjanjikan proteksi.

banner 336x280

Senin pagi nanti bukan sekadar pembukaan perdagangan biasa. Di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), para pelaku pasar menanti satu nama yang akan dibacakan untuk menduduki kursi BEI-1. Tugasnya berat: menghentikan pendarahan indeks, memulangkan modal asing, dan membersihkan pasar dari saham “hantu”.

Dengan profil Menkeu Purbaya (PYS) yang sangat data-driven dan anti-drama, kriteria pencarian menyempit. Sumber Bloomberg Technoz di lingkaran Lapangan Banteng membocorkan bahwa PYS menginginkan sosok yang “selesai dengan dirinya sendiri” dan berani mengambil keputusan tidak populer.

Berikut adalah peta kekuatan para kandidat yang kini ada di meja Presiden, terpolarisasi dari spektrum Teknokrat murni hingga Politisi.

KELOMPOK 1: THE TECHNOCRATS (Para Pembenah)

Kandidat yang bekerja dengan logika, angka, dan mandat negara. Favorit Purbaya.

1. Kartika Wirjoatmodjo (Tiko) — The Iron Hand

Nama Wakil Menteri BUMN ini berada di urutan teratas “Daftar Pendek”. Tiko bukan orang asing bagi krisis. Rekam jejaknya membereskan balance sheet Bank Mandiri dan membedah kasus Jiwasraya menjadikannya kandidat paling logis untuk skenario “bersih-bersih”.
* Kelebihan: Memiliki leverage politik dan korporasi. Emiten BUMN (yang menguasai kapitalisasi pasar) akan tunduk padanya. Ia tidak butuh waktu adaptasi.
* Kekurangan: Dianggap terlalu “Pemerintah”. Pasar swasta khawatir BEI akan menjadi perpanjangan tangan Kementerian BUMN semata.
* Probabilitas: High.

2. Pahala Mansury — The Surgeon

Jika Tiko adalah palu godam, Pahala adalah pisau bedah. Saat ini menjabat Wamenlu, Pahala adalah otak finansial di balik restrukturisasi Garuda Indonesia. Ia dikenal introvert, kaku, namun brilian dalam rekayasa keuangan.
* Kelebihan: Sangat disukai PYS karena bahasa mereka sama: efisiensi dan rasio. Pahala akan fokus pada perbaikan fundamental emiten.
* Kekurangan: Kurang komunikatif. Dalam situasi panik, pasar butuh sosok yang bisa menenangkan massa, bukan hanya bekerja di belakang meja.
* Probabilitas: Medium.

KELOMPOK 2: THE PROFESSIONALS (Para Bankir Global)
Kandidat dari sektor swasta murni yang membawa standar internasional.

3. Tigor M. Siahaan — The Wall Street Standard

Mantan bos Citi Indonesia dan CIMB Niaga ini adalah representasi dari “Kepercayaan Asing”. Di mata investor New York atau London, Tigor adalah jaminan mutu. Ia tidak memiliki beban politik masa lalu.
* Kelebihan: Fasih berbicara bahasa pasar global. Jika masalah utama adalah capital outflow, wajah Tigor di podium adalah sinyal Buy bagi asing.
* Kekurangan: Mungkin akan kesulitan menghadapi “kearifan lokal” (baca: permainan bandar lokal) yang seringkali tidak masuk logika bankir barat.
* Probabilitas: Medium-High.

4. Ignasius Jonan — The Shock Therapy

Meskipun mantan menteri, Jonan dikategorikan sebagai profesional karena independensinya yang keras kepala. Ia adalah opsi “nuklir”. Menunjuk Jonan berarti pemerintah siap melihat indeks rontok sesaat demi perbaikan jangka panjang.
* Kelebihan: Integritas tanpa kompromi. Ia akan menendang emiten gorengan keluar dari papan utama tanpa pandang bulu.
* Kekurangan: Volatilitas tinggi. Gaya komunikasinya yang meledak-ledak bisa kontraproduktif dengan gaya PYS yang tenang.
* Probabilitas: Low (Kecuali kondisi darurat).

KELOMPOK 3: THE POLITICIANS (Jalur Diplomasi)
Kandidat dengan dukungan politik kuat yang menjanjikan stabilitas lewat lobi.

5. Rosan Roeslani — The Diplomat

Mantan Ketua Kadin dan Dubes AS ini adalah jalan tengah. Ia bukan teknokrat murni, tapi ia pengusaha yang mengerti pasar. Keunggulannya adalah akses langsung ke Istana dan jaringan bisnis yang luas.
* Kelebihan: Mampu melobi investor kakap (“Whales”) untuk masuk ke Indonesia. Rosan bisa menjadi “Marketing Director” yang handal bagi BEI.
* Kekurangan: Konflik kepentingan. Sebagai pengusaha aktif, pasar akan selalu curiga apakah kebijakannya murni objektif atau menguntungkan kelompok bisnis tertentu.
* Probabilitas: Medium.

6. Ahmad Fathoni — The Inisiator

Praktisi Pasar Modal yang selama ini dikenal sebagai Pahlawan Ritel dalam perjalanannya mencerdaskan Investor & Trader di Pasar ini menjadi Pilihan yang paling Favorit oleh Ritel Indonesia. Khususnya para ritel dari Mandiri Sekuritas.
Beliau telah terbukti melewati berbagai Krisis dari 2015-2026 ini dan berhasil bertahan dan mengedukasi para Ritel Indonesia.
Jika beliau terpilih, bisa dipastikan situasi akan sangat positif dan IHSG akan rebound kembali ke track bullish dengan slogan “IHSG10K” nya.
* Kelebihan : Mampu menjembatani kepentingan Bandar asing dan lokal dengan Ritel Indonesia.
* Kekurangan : Selama ini dianggap terlalu menguliti taktik2 Bandar untuk kepentingan Ritel.
* Probabilitas : Very High

Siapa yang Akan Dipilih?
Seorang analis senior dari sekuritas asing yang enggan disebut namanya memberikan pandangannya:
> “Jika Menteri Purbaya ingin tidur nyenyak karena tahu data di layar RTI itu akurat, dia akan memilih Pahala atau Dian Ediana Rae (OJK). Tapi jika dia ingin pasar rebound cepat dan emiten BUMN berhenti berulah, dia harus memilih Tiko. Tiko adalah satu-satunya yang punya tombol ‘mute’ untuk membungkam intervensi politik.”
>
Pilihan Purbaya akan menentukan arah pasar modal Indonesia lima tahun ke depan: Apakah akan menjadi pasar yang riuh namun semu (jalur Politisi), atau pasar yang sepi namun berintegritas (jalur Teknokrat)?
Senin pagi, jawabannya akan terpampang di layar bursa.***

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *