KARAWANG — Ada masa ketika seorang pemimpin hadir bukan sekadar untuk menjalankan tugas, melainkan meninggalkan perubahan yang dapat dirasakan jauh setelah dirinya berpindah tempat. Semangat itulah yang tergambar dalam pelepasan drg. Veronica Maulana, MKM, dari jabatan sebagai Kepala Puskesmas Wanakerta, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, dalam kegiatan Minggon Kecamatan Telukjambe Barat.
Kurang lebih lima tahun memimpin Puskesmas Wanakerta menjadi perjalanan panjang yang sarat tantangan, perjuangan, sekaligus capaian. Bagi Veronica, masa pengabdian tersebut bukan sekadar perjalanan karier, tetapi sebuah proses untuk memberikan seluruh kemampuan terbaiknya bagi masyarakat.
“Saya sudah mengerahkan semua yang saya miliki. Saya sudah berbuat yang terbaik. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan bisa dirasakan oleh masyarakat. Yang membuat saya bahagia adalah ketika masyarakat juga merasa bahagia dan tidak melihat saya sebagai seseorang yang hanya datang untuk membuat masalah,” ungkap Veronica.
Salah satu episode paling monumental dalam perjalanan tersebut adalah perjuangannya memastikan lahan Puskesmas Wanakerta memiliki kepastian dan dapat mendukung pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih representatif. Perjuangan itu bermula dari sebuah langkah sederhana namun sarat makna ketika Veronica menghadiri kegiatan reses anggota DPRD.
Ia datang membawa segelas kopi cappuccino sebagai simbol kondisi air yang kala itu dirasakan masyarakat Wanakerta.
“Saya membawa kopi cappuccino. Kebetulan warna air di Wanakerta seperti cappuccino. Saya hanya menunjukkan, ‘Ini Bu, air kami. Kami melayani masyarakat dengan air seperti ini.’ Saya ingin menunjukkan kondisi riil yang dihadapi masyarakat,” tuturnya.
Momentum tersebut kemudian berkembang menjadi perhatian publik. Persoalan lahan Puskesmas pun mendapatkan respons dari berbagai pihak. Proses advokasi dilakukan secara berjenjang melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan, pemerintah daerah, Bappeda hingga unsur terkait lainnya.
Perjuangan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Bahkan sempat terjadi persoalan serius ketika material batu coral dalam jumlah besar berada di atas lahan yang berkaitan dengan Puskesmas. Namun Veronica memilih tetap mengedepankan mekanisme kelembagaan dan penyelesaian yang konstruktif.
Puncaknya, persoalan lahan dapat diselesaikan dan pemerintah daerah kemudian mengalokasikan anggaran untuk mendukung pembangunan fasilitas Puskesmas Wanakerta. Dalam waktu relatif singkat, bangunan baru pun berdiri.
“Dalam waktu sekitar enam bulan, persoalan tanah selesai dan bangunannya juga berdiri. Dari situ saya berpikir, kita sudah memiliki bangunan yang bagus. Jangan sampai fasilitasnya bagus tetapi kualitas pelayanannya tidak ikut meningkat,” ujarnya.
Bagi Veronica, pembangunan fisik hanyalah satu bagian dari transformasi. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, profesional, ramah, serta membuat masyarakat merasa dihargai.
Karena itu, ia kemudian mendorong seluruh jajaran Puskesmas untuk membangun budaya pelayanan yang berorientasi kepada masyarakat. Menurutnya, kepercayaan publik merupakan modal utama bagi sebuah fasilitas kesehatan pemerintah untuk tumbuh dan berkembang.
“Bagaimana caranya kita mendapatkan kepercayaan masyarakat? Jawabannya adalah memberikan pelayanan terbaik. Ketika masyarakat datang, jangan sampai mereka pulang dengan membawa keluhan. Kita harus mampu memberikan pelayanan yang membuat masyarakat percaya kepada Puskesmas,” katanya.
Transformasi tersebut kemudian memberikan dampak positif terhadap aktivitas pelayanan di Puskesmas Wanakerta. Peningkatan kunjungan dan pendapatan layanan juga menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan tersebut semakin tumbuh.
Namun di balik seluruh capaian itu, masih terdapat sebuah mimpi besar yang belum sempat diwujudkan Veronica sepenuhnya: mendorong Puskesmas Wanakerta berkembang menjadi Rumah Sakit Tipe D.
Menurutnya, keberadaan bangunan dan potensi pelayanan yang telah berkembang merupakan modal penting untuk melangkah ke tahap berikutnya. Apalagi kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan terus meningkat.
“Cita-cita saya adalah Puskesmas Wanakerta bisa menjadi Rumah Sakit Tipe D. Rumah sakit tipe C saat ini banyak yang penuh. Kenapa kita tidak mengembangkan Wanakerta? Bangunan sudah ada, tinggal dikembangkan sehingga kapasitas rawat inap dan pelayanan bisa lebih luas,” jelasnya.
Kini, Veronica melanjutkan pengabdian di Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. Meski tidak lagi berada di balik meja Kepala Puskesmas Wanakerta, kedekatan emosionalnya dengan masyarakat dan keluarga besar Puskesmas tersebut diyakini tidak akan berakhir.
Dengan tugas barunya sebagai tenaga fungsional kesehatan, Veronica berharap tetap dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, termasuk membantu ketika terdapat persoalan kesehatan yang membutuhkan fasilitasi maupun koordinasi dengan Dinas Kesehatan.
Ia juga memastikan bahwa Wanakerta tetap menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Apalagi bidang tugasnya di Dinas Kesehatan memberikan ruang baginya untuk tetap bersentuhan dengan persoalan kesehatan masyarakat di lapangan.
Menutup masa tugasnya di Puskesmas Wanakerta, Veronica tidak meninggalkan pesan yang panjang. Ia justru memilih sebuah prinsip sederhana yang menjadi refleksi perjalanan lima tahun pengabdiannya.
“Ketika kita melakukan segala sesuatu dengan versi terbaik kita, kita akan mampu mewarnai banyak orang tanpa harus memaksakan diri untuk membahagiakan orang lain.”
Pesan tersebut menjadi penutup sebuah bab pengabdian, sekaligus pembuka perjalanan baru. Lima tahun di Wanakerta bukan hanya tentang seorang kepala Puskesmas yang berpindah tugas, tetapi tentang sebuah legacy: keberanian memperjuangkan fasilitas, konsistensi meningkatkan pelayanan, dan keyakinan bahwa institusi kesehatan pemerintah harus terus tumbuh bersama masyarakat yang dilayaninya.

