Kitabaru.com – Dalam rangka ikut serta menjaga eksistensi bahasa Arab di Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia setelah Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair dan Sudan menurut RISSC (2021), disamping peranannya sebagai sub-kultur keagamaan sejak masuknya Islam ke Nusantara dua belas abad yang lalu, buku ini menawarkan paradigma, sekaligus pijakan awal bagi setiap terobosan baru pembelajaran bahasa Arab yang berorientasi pada komunikasi (bahasa) sekaligus pendalaman agama.
Menyelam sambil minum air. Sebagai alat komunikasi, tercatat bahwa Bahasa Arab sejak tahun 1973 sudah diresmikan sebagai bahasa internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun sebagai alat pendalaman agama Islam sudah mengakar di bumi Nusantara, Bahasa Arab masih perlu di-upgrade sebagai alat komunikasi sekaligus penyebaran moderasi Islam ke penjuru dunia, terutama ke dunia Arab yang masih rentan dilanda konflik. Lagi-lagi bahasa dan peradaban harus digaungkan lebih keras lagi.
Selain itu, Bahasa Arab dibutuhkan eksistensinya untuk menjawab tantangan era revolusi industri 5.0 dan digitalisasi yang menghilangkan sekat dan jarak pemisah antara negara satu dengan yang lain. Sebagai konsekuensi, umat Islam perlu menyegarkan kembali cara pandang bahasa Arab mereka yang parsial, identik dengan bahasa kitab, ritual, supranatulal menjadi epistemik dan komprehensif sesuai watak bahasa yang sering terlupakan yaitu suara, disamping logika berfikir “orang yang belajar bahasa tertentu, maka berbicara dengan bahasa itu”. Ditambah stigma dunia pendidikan yang mensifati Bahasa Arab itu suci berimplikasi pada dua hal, menguntungkan sekaligus merugikan Bahasa Arab itu sendiri.
Jadi, upaya menjaga eksistensi Bahasa Arab harus menerima pembaharuan dan modernisasi, termasuk dalam hal paradigma dan cara pandang. Bahasa Arab sudah tidak lagi relevan dipandang dengan kaca mata tradisional yang mengabaikan bahasa sebagai bahasa, atau dengan kaca mata orientalis yang melokalisir bahasa Arab di negara-negara non-Arab sebagai bahasa agama, padahal Islam mencakup agama dan peradaban. Peradaban dalam hal ini mencakup pendidikan humanis, keadilan hukum dan materi ekonomi. Konsekuensinya, bahasa Arab perlu dipandang lebih luas dan menurut kodratnya sebagai bahasa (baca:suara) sehingga fungsinya tidak hanya sebagai simbol untuk dibaca, melainkan juga sebagai alat komunikasi lisan maupun tulisan. Tidak hanya gerakan sekulerisasi Bahasa Arab yang merugikan, sakralisasi Bahasa Arab, Arabphobia dan Islamophobia juga menjadi sebuah ancaman. Sekulerisasi Bahasa Arab telah menjadi keprihatinan negara-negara Arab hingga muncul diskursus konflik internal Bahasa Arab serta fenomena orang Arab belajar Bahasa Inggris dan mengabaikan Bahasa Arab di satu sisi, dan di sisi lain orang non-Arab (ajam) belajar Bahasa Arab dengan sedikit ada rasa kecewa.
Seorang akademisi Suriah Dr. Muayyad al-Mugaddami yang menyelesaikan studi doktornya di Sudan bersama sejumlah dosen Khartoum International Insttitute for Arabic Language dan International University of Africa yang ikut hadir dalam sebuah Seminar di Khartoum mengomentari paradigma yang kami tawarkan; keterampilan Bahasa hanya dua, tidak empat sebagai pemikiran brilian dan logika yang kokoh. Paradigma ini menginspirasi buku praktis di tangan pembaca ini setelah dipaparkan dalam Konferensi Internasional Pusat Pendidikan Bahasa Arab Negara-Negara Teluk. Jika pun ini adalah hujjah kebenaran dan kemaslahatan maka akan teruji oleh waktu. Tentu penyuaraan fakta dan data ilmiah ini bukan bermaksud menantang arus besar pemahaman tentang apa yang disebut sebagai empat keterampilan bahasa melainkan sebagai upaya mengungkap konsistensi teori dan praktek sebagai tujuan utama penulis, bukan unpacking dan dekontruksi keterampilan bahasa.
Sebelumnya, Kontributor Linguistik Liga Arab asal Sudan Prof. Yusuf Khalifah Babiker (Alm) memberikan komentar serius bahwa gagasan ini sebagai gagasan genuine. Ketika itu penulis menyodorkan proposal disertasi dimana setelah berjalannya waktu dan tiba saatnya sidang disertasi, para penguji disertasi mengamini gagasan ini. Apakah ini kemudian hanya menjadi sebuah tawaran yang utopis di masyarakat, atau justru solutif bagi masa depan bahasa Arab ketika ada dukungan political will. Setidaknya, banyak orang yang mulai sadar bahwa bahasa Arab masih rentan diabaikan di banyak sektor. Sebagai kualifikasi penelitian, paradigma yang saya tawarkan juga diterima oleh Pusat Pendidikan Bahasa Arab Negara-Negara Teluk dalam momentum presentasi Konferensi Internasional di Sharjah, UEA.
Image bahasa Arab sebagai bahasa yang sulit atau bahasa Arab identik dengan dari nahwu perlu dirubah seiring kuatnya arus budaya travelling dan googling di kalangan Gen M dan Z. Perubahan ini bisa dilakukan secara terbatas, alias kondisional dengan prinsip tidak mengganggu tradisi lokal yang berkembang, terutama pemaknaan kitab di Pesantren sebagai ciri khas Nusantara seperti pembacaan teks dengan metode Arab pegon; utawi iki iku dan sejenisnya. Arab pegon sudah menjadi simbol masyarakat Islam, simbol budaya dan simbol identitas sosial. Namun, Pewaris Islam Nusantara seperti tiga Ulama Nusantara pendiri Ormas Islam terbesar di Nusantara K.H. Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfanany (pendiri Nahdlatul Wathan) tidak dipungkiri bahwa mereka juga familiar berbahasa Arab sebagaimana mereka pernah belajar di Madrasah Shaulatiyah, Mekkah al-Mukarromah.
Sekali lagi, tantangan image bahasa Arab itu sulit dan perlakuan terhadap bahasa Arab yang masih disamakan dengan nahwu secara langsung mendisfungsi bahasa Arab itu sendiri. Selain itu, menguatkan tradisi penyalahgunaan ilmu nahwu yang mestinya digunakan sebagai alat agar bisa berbahasa yang fasih, akhirnya ter-downgrade menjadi alat membaca kitab. Ini dalam sejumlah penelitian disebut sebagai bagian target skenario sekulerisasi bahasa Arab sebagaimana ajakan massif pembuatan kamus dialek di Mesir dan sejumlah negara Arab paska runtuhnya Dinasti Turki Usmani.
Tidak dimungkiri bahwa perubahan image membutuhkan upaya bersama dengan para ahli maupun praktisi sehingga bahasa Arab dalam manfaatnya dapat bersaing dengan bahasa Inggris atau bahasa Mandarin yang kian diminati oleh dunia kerja dan naik daun di lembaga-lembaga kursus. Lebih dari itu, penguatan eksistensi bahasa Arab diharapkan dapat mengantarkan umat Islam bisa ikut andil dalam dakwah global dengan menjaga karakter Islam lokal seperti tersirat dalam jargon Nusantarisasi Bahasa Arab, bukan Meng-Arab-kan Nusantara. Minimal mereka bisa menikmati anugerah Allah berupa penempatan sebaga warga dunia, terlebih anugerah ibadah haji dan umroh yang akan semakin manfaat dan indah jika disertai bekal Bahasa Arab.
Bagi umat non-muslim, Bahasa Arab yang inklusif, semangat desakralisasi Bahasa Arab dan peluang kerja, penerjemahan dan pariwisata yang terbuka lebar di negara-negara Timur Tengah memperkuat perwujudan media pembelajaran yang mengglobal dan terlepas dari orientasi keagamaan. Impresi dan persepsi non-muslim juga akan semakin kuat dan meluas jika Bahasa Arab dimasukkan ke dalam kurikulum Pendidikan umum. Tentu ancaman sekulerisasi Bahasa Arab tidak berlaku bagi mereka meskipun bahasa akan selalu memiliki konteks kebahasaan dan konteks kebudayaan.
Merespon dinamika ini, generasi milenial dari kalangan pelajar maupun praktisi baik di dunia pendidikan, ekonomi maupun politik perlu bersinergi dalam program-program pembekalan dan pengembangan bahasa Arab yang lebih strategis dan taktis. Meski demikian, tidak menomorduakan atensi syiar agama Islam bagi umat Islam. Upaya konkrit ini akan berjalan efektif dan terhindar dari semangat status-quo disorientasi pembelajaran bahasa Arab jika didasari pembaharuan paradigma keterampilan bahasa. Bukti nyata disorientasi adalah orang belajar bahasa Arab justru belajar menerjemah, menulis dan membaca, bukan belajar berbahasa atau berbicara sebagaimana kodrat dan definisi bahasa yang terkuno dan terpopuler adalah komunikasi suara atau definisi legendaris Ibnu Jinni.
Kesalahan memandang bahasa berarti kesalahan memandang keterampilan bahasa dan seterusnya yang menyangkut keterampilan. Buku ini akan mengantarkan pembaca pada jadi diri bahasa Arab dan kosa kata al-Qur’an yang selalu relevan digunakan dalam komunikasi bahasa Arab dengan pergerakan makna yang ada pada kosa kata yang tidak terulang dalam al-Qur’an.