Harga Diri Minyak Makin Jatuh

Opini10 Views
banner 468x60

Oleh : Salamuddin Daeng

Kitabaru.com, Jakarta – Pada saat Russia menyerang Ukraina Tahun 2022 dunia panik, harga minyak naik hingga menyentuh 120 dollar per barel. Harga minyak diatas 100 dollar bertahan hingga 4 bulan lamanya. Harga diri minyak terus merosot hingga 54 dollar per barel pada Desember 2026. Harga minyak bukan hanya murah, tapi telah jatuh pada level paling memalukan bagi siapapun yang mau investasi minyak. Perusahaan sekelas Saudi Aramco membutuhkan harga 80 dollar per barel agar bisa IPO. Tapi apes!

banner 336x280

Pada saat goro-goro mulai dilancarkan lagi oleh AS ke Venezuela, harga minyak tidak mau bergeming, tetap murah. Padahal Venezuela itu adalah produsen minyak terbesar di dunia. Tidak ada kepanikan, tidak ada yang berebut minyak mentah, tidak ada yang memprovokasi agar harga BBM semua negara dinaikkan. Kelihatan minyak tidak lagi menjadi perhatian publik. Ibarat perempuan minyak bukan lagi gadis yang sexi.

Sekarang minyak pertaruhkan harga dirinya yang paling terakhir. Perang dilancarkan ke sebuah negara paling kaya minyak yakni Iran. Negara yang biasa jual minyak murah ke seluruh dunia. Tentu saja ada dua hal yang dipastikan terjadi yakni pasokan minyak murah ke pasar global berkurang drastis dan harga minyak melejit seperti waktu Russia menyerang Ukraina.

Seperti dugaan banyak orang awam, harga minyak pun naik. Menyentuh harga 120 dolar per barel. Tapi hanya bertahan sehari. Setelah itu bergerak seperti yo yo, naik cepat dan turun dengan cepat. Sepertinya minyak dan bandar bandarnya ragu dengan perang yang sedang mereka bikin sendiri. Perang yang makin kehilangan manfaatnya buat mereka. Mimpi mimpi kembali ke jaman keemasan perang Arab Israel 1971 ambyar.

Tapi apa mau dikata, tampaknya perang kali ini adalah upaya terakhir untuk memulihkan harga diri minyak. Usaha yang tengah dilancarkan di selat Hormuz untuk menghambat pasokan sekitar 15-20 % minyak dunia. Seharusnya harga minyak naik, seperti yang mereka harapkan. Namun kali ini senjata makan tuan. Mereka tidak sadar bahwa minyak minyak gelap yang selama ini banyak diperdagangkan melebihi semua minyak yang mampu dihambat masuk ke pasar melalui perang.

Bukan hanya itu, ada satu sebab yang membuat harga diri minyak benar benar jatuh adalah transisi energi. Publik sudah tahu bahwa jumlah minyak yang dapat dihambat dengan provokasi selat Hormuz masih terlampau sedikit dibandingkan dengan pencapaian transisi energi saat ini. Transisi energi menuju elektrifikasi dan bauran energi telah bergerak lebih cepat dari dugaan bandar minyak. Tindakan manusia keluar dari ketergantungan pada minyak telah membuat pada bandar minyak yang memprovokasi perang tertunduk malu.

Bandar minyak kalah dengan memalukan! Alhasil The Federal Reserve (The Fed) tidak lagi bisa printing uang. Lagi pula uang dollar sekarang telah ditandatangani oleh Donald Trump, bukan the Fed. Jadi rupiah juga tidak akan lagi ditantangani oleh BI. Tidak ada pesta yang tidak berakhir.***

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *