Site icon KITABARU

Doa dan Zikir di Jati Baru, H. Apudin Asnawi Tampilkan Kepemimpinan yang Teduh dan Merangkul

BEKASI — Ada suasana berbeda yang terasa di Desa Jati Baru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Bukan sekadar riuhnya sebuah kontestasi politik desa, melainkan suasana kebersamaan yang terasa kuat ketika warga berkumpul dalam doa dan zikir bersama menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jati Baru.

Di tengah suasana yang khidmat tersebut, hadir H. Apudin Asnawi, S.E., calon Kepala Desa Jati Baru nomor urut 1. Ia tidak banyak berbicara tentang persaingan. Sebaliknya, ia memilih menyapa warga, bersalaman, memeluk sejumlah tokoh dan masyarakat, serta menyampaikan pesan tentang persaudaraan dan masa depan desa.

Sikap tersebut menjadi gambaran pendekatan H. Apudin dalam menghadapi momentum Pilkades: menang tanpa merendahkan, berjuang tanpa memecah, dan mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan pribadi.

“Saya tidak berdiri di sini karena kekuatan sendiri. Saya berdiri di sini karena doa dan harapan kalian. Setiap langkah yang saya ambil adalah langkah bersama warga Jati Baru,” ujar H. Apudin dengan nada penuh haru.

Ia menyampaikan bahwa apabila masyarakat memberikan amanah kepadanya, dirinya ingin menjadi kepala desa bagi seluruh masyarakat Jati Baru, bukan hanya bagi mereka yang memilihnya.

“Jika dipercaya memimpin, saya tidak akan bekerja untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh warga—tua, muda, kaya maupun yang sederhana. Semua akan saya perhatikan secara adil,” tegasnya.

Bagi H. Apudin, jabatan kepala desa bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab, keteladanan, dan kesediaan untuk mendengar suara masyarakat.

Karena itu, ia menempatkan pembangunan Jati Baru tidak hanya dalam bentuk infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan manusia, peningkatan kesejahteraan, pelayanan publik yang lebih baik, transparansi pemerintahan desa, serta terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis.

“Jati Baru harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada yang tertinggal. Pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi juga soal menjaga kehormatan, keadilan, dan kesejahteraan setiap keluarga di desa ini,” katanya.

Pesan tersebut seolah menegaskan karakter kepemimpinan yang ingin ditawarkan H. Apudin: kepemimpinan yang hadir untuk merangkul, bukan untuk memisahkan.

Ia juga menyadari bahwa setiap warga memiliki hak menentukan pilihan. Perbedaan pilihan dalam Pilkades, menurutnya, merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati.

“Berbeda pilihan adalah hal yang biasa. Tetapi jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita saling bermusuhan. Setelah Pilkades selesai, kita tetap saudara, tetap bertetangga, dan tetap menjadi bagian dari Jati Baru,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang hadir, pesan tersebut memberikan warna tersendiri dalam suasana Pilkades. Di tengah kompetisi untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, sikap yang mengedepankan ketenangan dan persaudaraan menjadi sesuatu yang dinilai penting.

Seorang tokoh masyarakat yang hadir mengatakan, pemimpin desa idealnya bukan hanya mampu berbicara tentang pembangunan, tetapi juga mampu menjaga suasana batin masyarakat agar tetap rukun.

“Pemimpin itu bukan hanya soal kemampuan memimpin pemerintahan. Ia juga harus mampu menjadi penyejuk ketika masyarakat menghadapi perbedaan. Mudah-mudahan siapa pun yang mendapat amanah nanti dapat menjaga Jati Baru tetap rukun,” ujarnya.

Sementara itu, dukungan terhadap H. Apudin terus dibangun melalui pendekatan yang mengedepankan silaturahmi dan komunikasi dengan masyarakat. Nomor urut 1 tidak hanya diperkenalkan sebagai identitas dalam kontestasi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan perubahan yang diharapkan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Namun bagi H. Apudin, perjalanan menuju Pilkades bukan semata tentang memenangkan sebuah pertandingan.

“Kalau nanti masyarakat memberikan amanah, kemenangan itu bukan kemenangan saya. Itu adalah amanah seluruh warga Jati Baru. Karena itu, sejak awal saya ingin mengajak semua pihak menjaga persaudaraan,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bahwa kepemimpinan yang dibayangkan H. Apudin tidak berhenti pada hari pemilihan. Ia ingin membangun Jati Baru dengan semangat kebersamaan, membuka ruang bagi seluruh masyarakat, serta memastikan tidak ada warga yang merasa ditinggalkan.

Di tengah lantunan doa dan zikir, harapan tentang masa depan Jati Baru pun menemukan ruangnya. Harapan akan desa yang lebih maju, masyarakat yang lebih sejahtera, pemerintahan yang lebih terbuka, serta kehidupan sosial yang tetap guyub dan bermartabat.

Pada akhirnya, Pilkades bukan hanya tentang memilih seorang kepala desa. Lebih jauh dari itu, Pilkades adalah kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan arah masa depan desanya.

Dan bagi H. Apudin Asnawi, masa depan Jati Baru harus dibangun dengan ketulusan, keadilan, persatuan, dan semangat mengabdi kepada seluruh masyarakat.

H. Apudin Asnawi, S.E. — Nomor Urut 1.

Bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi memilih harapan untuk Jati Baru yang lebih maju, sejahtera, rukun, dan bermartabat.

Exit mobile version