Kitabaru.com – Sebuah artikel menyebutkan bahwa di negara-negara maju minat baca masyarakatnya sangatlah tinggi. Sebut di Eropa misalnya, konon rata-rata setiap individu membaca hingga 50 buku perpekannya.
Negara tetangga, yang sedikit lebih maju dari kita seperti Malaysia dan Singapura cukup lumayanlah, setiap orang minimal membaca 50 buku per tahun.
Lalu indonesia bagaimana ? Jangan tanya, konon orang Indonesia bisa betah membaca dalam sehari hingga 4 – 6 jam. Bahkan itu masih bisa lebih.
Sayangnya yang dibaca itu bukanlah buku, tapi sosial media di gadgetnya. Yah rajinnya orang kita secrol tiktok dan ngucek-ngucek facebook. Adapun untuk membaca sebuah buku, 10 menit sudah cukup untuk mengantarkan membaca do’a : Bismikallahumma amut.
Sebuah penelitian dari Perpustakaan Nasional RI menyebutkan jika rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per pekan. Jumlah buku yang ditamatkan hanya berkisar 5 – 9 buku per tahun !
Sungguh sangat ironis. Negara dengan pemeluk Islam terbesar di seluruh dunia justru terdepan dalam mengabaikan ayat pertama yang turun dan perintah maha penting dalam agama ini : Iqra’ – bacalah”.
Padahal dahulu, ketika umat ini jaya dan memegang peradaban dunia, budaya membaca dan menulis adalah aktivitas yang lekat dengan umat, mulai dari para cendikiawan nya hingga masyarakat umumnya.
Dahulu, saat Eropa masih gelap dengan kebodohan, petani-petani di Andalusia hampir sudah tidak ada yang tidak bisa membaca.
Apalagi para alim ulamanya, mereka menjadi teladan terdepan dalam dunia baca tulis. Banyak sekali riwayat menakjubkan yang menyebutkan tentang hal ini.
Para ulama di masa Abbasiyah bila ditugaskan Khalifah untuk mengajar di kota lain, saat pindah tempat tinggal harus menyewa puluhan onta khusus untuk membawa kitab-kitabnya saja, yang rata-rata ulama di zaman itu punya 200 ribu kitab.
Imam At Thabari misalnya, yang usianya “hanya” 57 tahun, telah menelaah lebih dari 100.000 hadist, sekaligus meninggalkan ratusan karya tulis.
Ahmad bin Yahya asy-Syaibani yang lebih dikenal dengan Tsa’lab (200-291 H) tidak pernah terpisah dari buku. Yang unik ia memberi syarat kepada siapapun yang mengundangnya untuk menghadiri acara, agar di depan tempat duduknya disediakan meja untuk membaca buku.
Imam besar lainnya seperti an Nawawi rahimahullah juga tak kalah luar biasanya dalam urusan ini. Beliau mampu membaca 12 buku dari disiplin ilmu yang berbeda setiap harinya.
Abu Al Wafa‘ al Baghdadi atau yang dikenal Ibnu Aqil telah menulis kitab sebanyak 800 jilid besar. Disebutkan bahwa kitab tersebut merupakan karya tulis terbesar dalam sepanjang sejarah manusia.
Pada masa Abasiyah di Baghdad, ada perpustakaan besar yang koleksinya mencapai 500 ribu judul buku. Di Spanyol terdapat 70 perpustakaan, di antaranya perpustakaan khalifah al Hakim di Cordova dibangun oleh Abd ar Rahman, merupakan perpustakaan terbaik dunia Islam waktu itu.
Maka jika hari ini, masih tidak kunjung bangkit semangat generasi untuk memperbaiki literasi, maka gaung kebangkitan, bisa jadi hanya akan menjadi mimpi. (red)
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq