BEKASI — Upaya menjaga kondusivitas Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jatibaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, menjadi perhatian serius H. Apudin Asnawi, S.E., calon Kepala Desa Jatibaru nomor urut 1.
Seiring masih berlangsungnya tahapan Pilkades, H. Apudin mengambil langkah antisipatif dengan memberikan arahan kepada seluruh jajaran relawan dan pendukungnya agar mengedepankan ketenangan, menahan diri serta tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu gesekan di tengah masyarakat.
Arahan tersebut tidak hanya disampaikan kepada tim inti, tetapi diteruskan melalui para koordinator hingga seluruh simpul-simpul relawan yang berada di berbagai wilayah Desa Jatibaru.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab untuk memastikan seluruh pendukungnya memahami bahwa kontestasi politik harus dijalankan secara tertib, santun dan tetap menghormati keamanan serta kenyamanan masyarakat.
Antisipasi Sebelum Persoalan Terjadi
H. Apudin menegaskan bahwa setiap potensi persoalan harus dicegah sejak awal. Karena itu, dirinya memilih memperkuat komunikasi internal daripada membiarkan relawan mengambil tindakan berdasarkan emosi atau informasi yang belum jelas.
Ia meminta seluruh koordinator menjadi pengendali suasana di lapangan dan segera mengingatkan relawan apabila menemukan situasi yang berpotensi menimbulkan provokasi.
«“Saya sudah menghimbau kepada seluruh relawan, melalui para koordinator dan seluruh simpul-simpul relawan, agar tidak melakukan aksi pembalasan. Persoalannya sudah selesai. Jangan sampai ada tindakan yang justru membuka persoalan baru,” tegas H. Apudin.»
Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih penting daripada melakukan penanganan setelah sebuah persoalan berkembang.
Karena itu, seluruh relawan diminta tidak mudah terpancing oleh ucapan, isu, provokasi maupun tindakan pihak lain yang berpotensi mengganggu jalannya Pilkades.
Jangan Terpancing, Jangan Membalas
H. Apudin secara khusus meminta seluruh pendukungnya untuk tidak melakukan aksi balasan apabila menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Baginya, setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi dan mekanisme yang tepat, bukan melalui tindakan spontan yang berpotensi memperbesar masalah.
“Saya sudah beberapa kali mengingatkan agar kejadian seperti itu tidak terulang. Jangan terpancing dan jangan membalas. Kita sudah menyelesaikan persoalan dengan baik, maka mari kita jaga bersama hasil perdamaian tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, relawan bukan hanya memiliki tugas memenangkan dukungan, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga suasana tetap aman dan damai.
Setiap Individu Bertanggung Jawab atas Tindakannya
Sebagai langkah antisipatif lainnya, H. Apudin juga menegaskan pentingnya membedakan antara kebijakan resmi tim dengan tindakan pribadi seseorang.
Ia menyatakan bahwa tim dan jaringan relawannya telah diberikan arahan yang jelas untuk tidak melakukan tindakan pembalasan ataupun tindakan lain yang dapat menimbulkan kegaduhan.
«“Kalau ada kejadian yang tidak kita inginkan kemudian dilakukan secara pribadi, itu di luar jangkauan tim. Kami sudah menghimbau beberapa kali agar kejadian tersebut tidak terulang. Tidak ada instruksi dari kami untuk melakukan pembalasan,” jelasnya.»
Penegasan tersebut sekaligus menjadi pesan kepada seluruh relawan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan mengatasnamakan tim untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum maupun kesepakatan bersama.
H. Apudin meminta seluruh koordinator dan simpul relawan untuk terus melakukan komunikasi, mengingatkan anggota masing-masing serta segera meredam setiap potensi kesalahpahaman yang muncul.
Menjaga Pilkades Tetap Sehat dan Bermartabat
Menurut H. Apudin, demokrasi di tingkat desa harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menentukan pilihan secara bebas, aman dan bermartabat.
Perbedaan dukungan merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, ia mengajak seluruh kandidat dan pendukungnya untuk menjadikan Pilkades Jatibaru sebagai kompetisi gagasan, program dan kapasitas, bukan arena saling membalas.
“Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai perbedaan itu merusak persaudaraan. Kita semua warga Jatibaru. Setelah Pilkades selesai, kita akan kembali hidup berdampingan sebagai masyarakat,” katanya.
Mencegah Lebih Baik daripada Menyesal
Langkah antisipatif H. Apudin Asnawi tersebut menunjukkan upaya untuk membangun sistem pengendalian internal di tengah dinamika Pilkades.
Komunikasi berjenjang melalui koordinator dan simpul-simpul relawan menjadi instrumen penting untuk memastikan pesan perdamaian tidak berhenti di tingkat pimpinan, tetapi benar-benar dipahami hingga lapisan pendukung di lapangan.
Dengan demikian, setiap potensi gesekan diharapkan dapat dihentikan sejak dini sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Bagi H. Apudin, menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab moral dalam mengikuti kontestasi politik.
Menang dalam Pilkades adalah tujuan politik, tetapi menjaga Jatibaru tetap damai adalah tanggung jawab bersama.
Karena itu, ia memilih langkah pencegahan: mengingatkan sebelum terjadi, meredam sebelum membesar, dan mengajak seluruh relawan untuk menahan diri sebelum emosi berubah menjadi tindakan.
“Tidak ada aksi pembalasan. Persoalan sudah selesai. Saya minta seluruh relawan tetap tenang, jaga komunikasi, jangan terpancing dan mari kita bersama-sama menjaga Jatibaru tetap aman dan damai,” pungkasnya.

