BEKASI — Ketua Umum Jatibaru Bersatu, Adi Irawan, mengutuk keras terjadinya tindakan dan ucapan yang dinilai telah mencederai etika dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jatibaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.
Menurut Adi, perbedaan pilihan politik dalam sebuah pesta demokrasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa saling menghormati, apalagi sampai melahirkan tindakan atau ucapan yang berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat.
“Saya mengutuk keras kejadian tersebut. Apa pun perbedaan pilihan politiknya, kita semua harus tetap menjunjung tinggi etika, sopan santun dan saling menghormati. Jangan sampai Pilkades yang seharusnya menjadi pesta demokrasi justru menimbulkan perpecahan di antara masyarakat Jatibaru,” tegas Adi Irawan.
Ia menilai, setiap persoalan yang muncul dalam proses Pilkades semestinya tidak hanya diselesaikan secara kekeluargaan dan sesuai aturan, tetapi juga harus dijadikan bahan evaluasi bersama.
Adi berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran sekaligus proses pendewasaan politik bagi seluruh elemen masyarakat Jatibaru, terutama para pendukung dan tim sukses masing-masing calon.
“Ini harus menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jangan sampai kesalahan yang sama terulang kembali. Kontestasi politik itu sementara, tetapi hubungan persaudaraan, hubungan bertetangga dan kehidupan bermasyarakat akan berlangsung selamanya. Karena itu, mari kita jadikan persoalan ini sebagai momentum untuk mendewasakan politik kita,” ujarnya.
Menurutnya, demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang bebas dari perbedaan, melainkan demokrasi yang mampu mengelola perbedaan dengan cara-cara yang bermartabat.
Setiap calon memiliki hak untuk mendapatkan dukungan. Setiap warga juga memiliki kebebasan menentukan pilihannya. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga keamanan, ketertiban dan persaudaraan.
Di sisi lain, Adi Irawan memberikan apresiasi khusus terhadap sikap H. Apudin Asnawi yang memilih menerima permintaan maaf dan tidak memperpanjang persoalan.
Menurut Adi, keputusan tersebut menunjukkan karakter seorang pemimpin yang mampu mengendalikan emosi dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Alhamdulillah, H. Apudin memang sosok seorang ksatria. Beliau sabar, memiliki sikap pemaaf dan berlapang dada. Ketika mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya, beliau tidak memilih untuk membalas dengan cara yang sama. Justru beliau menerima permintaan maaf dan memilih menyelesaikan persoalan dengan baik,” ungkapnya.
Adi menilai, sikap tersebut merupakan salah satu kualitas penting yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Sebab, menurutnya, menjadi pemimpin bukan hanya tentang keberanian mengambil keputusan, tetapi juga tentang kemampuan menahan diri ketika berada dalam situasi yang sulit.
“Pemimpin itu bukan seorang pendendam. Pemimpin harus mampu memaafkan, mampu meredam keadaan dan mampu mengajak semua pihak kembali kepada tujuan yang lebih besar. Karena yang kita perjuangkan bukan sekadar kemenangan kelompok, tetapi masa depan Desa Jatibaru,” kata Adi.
Ia pun menyebut sikap H. Apudin sebagai contoh bahwa kompetisi politik tidak harus melahirkan permusuhan.
Bagi Adi, menerima permintaan maaf bukan berarti membenarkan kesalahan yang telah terjadi. Sebaliknya, sikap tersebut justru menunjukkan bahwa persoalan dapat diselesaikan tanpa harus menambah luka dan memperbesar konflik.
“Saya melihat ini sebagai sikap ksatria. Mengakui kesalahan adalah keberanian, tetapi memaafkan dengan penuh keikhlasan juga membutuhkan kebesaran jiwa. Dan saya melihat itu ada pada sosok H. Apudin. Beliau tidak pendendam. Beliau memilih memberikan ruang untuk berdamai,” tuturnya.
Adi berharap seluruh tim sukses dan simpatisan dari masing-masing calon dapat mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
Ia mengingatkan bahwa setelah seluruh tahapan Pilkades selesai, seluruh kandidat dan pendukung akan kembali menjadi bagian dari masyarakat yang sama.
Tidak ada lagi sekat nomor urut. Tidak ada lagi batas antara pendukung calon satu dan calon lainnya.
Yang tersisa adalah tanggung jawab bersama untuk membangun Jatibaru.
“Siapa pun yang nanti mendapatkan amanah masyarakat, itulah pilihan demokrasi yang harus kita hormati. Jangan sampai karena berbeda pilihan, kita kehilangan saudara, kehilangan tetangga dan kehilangan persaudaraan. Jatibaru harus tetap bersatu,” tegasnya.
Adi juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga suasana Pilkades tetap aman, damai dan kondusif. Menurutnya, perbedaan politik seharusnya menjadi energi untuk melahirkan gagasan terbaik, bukan menjadi sumber permusuhan.
“Mari kita buktikan bahwa masyarakat Jatibaru adalah masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi. Silakan berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda dalam menjaga persaudaraan. Silakan berkompetisi, tetapi tetap dengan cara yang santun dan bermartabat,” pungkas Adi Irawan.
Bagi Jatibaru Bersatu, kata Adi, momentum perdamaian yang telah terjadi harus menjadi awal untuk menutup lembaran konflik dan membuka ruang yang lebih luas bagi persaingan sehat.
Sebab, Pilkades pada hakikatnya bukan sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Lebih dari itu, Pilkades adalah proses memilih sosok yang akan diberikan amanah untuk memimpin dan mengabdi kepada seluruh masyarakat.
Dan dalam demokrasi yang semakin dewasa, mampu memaafkan, meredam amarah, serta mengutamakan persatuan adalah bagian dari kualitas kepemimpinan yang tidak kalah penting dari sekadar memenangkan suara.

















